Sepertinya, tulisan kali ini akan menjadi
projek menulis rutin setiap tahun. Sebab, tulisan ini hanya khusus menceritakan
rasanya menyambut usia baru dan meninggalkan usia yang lama serta berbagai
kenangannya.
Di dua puluh satu, saya berhasil menulis surat
untuk Ayah, sosok yang saya kagumi bahkan ketika ia tidak ada di sisi saat saya
tumbuh. Dua puluh dua, saya menulis kenangan Memori Pengabdian, masa saya
temukan orang yang lebih beragam dan mencoba sesuatu di luar kotak kehidupan
saya.
Dua puluh tiga akan saya beri judul
kompleksitas.
Persis seperti apa yang diutarakan kamus,
kompleksitas mengacu pada kerumitan. Apakah ini pantas disebut bagian dari Quarter Life Crisis, saya juga belum
bisa memastikannya.
Di usia ini, saya telah lulus dari perguruan
tinggi. Saya menjalani hidup dengan mencari apa yang saya senangi, apa yang
membuat saya nyaman, dan apa yang bisa membuat saya berkembang ke arah yang
lebih baik. Namun, tidak ada hidup yang berjalan dengan mudah, kan?
Saya ingin merasakan dunia kerja saat
orangtua meminta saya melanjutkan pendidikan.
Apakah saya senang? Tidak. Ada
hari-hari yang saya habiskan dengan berpikir, apa saya sanggup menjalaninya?
Sebab, saya tak ingin menjalani hidup dengan sia-sia.
Ini perang antara trust and distrust, untuk
percaya atau tidak. Kesetiaan tidak hanya berpusat pada hubungan, tetapi juga
pada apa yang kamu jalani. Apakah saya punya kemampuan untuk setia pada sesuatu
yang tak saya sukai?
Bukan berarti saya tak menyukai pendidikan.
Tetapi bagi saya, bertanggung jawab atas apa yang saya jalani jauh lebih
penting. Belajar tak melulu soal siapa yang bergelar paling banyak dan paling
tinggi. Belajar adalah proses berpikir yang seharusnya bisa kita lakukan di
mana saja dan kapan saja.
Efeknya apa? Saya cuma bisa memendam rasa iri
melihat teman-teman menemukan apa yang mereka inginkan. Bekerja, menemukan
orang-orang yang baru, sesekali mengeluh tentang apa yang tak mereka senangi,
dan ikut pelatihan. Intinya, mereka berdiri di batu pijakan satu langkah di
depan saya.
Ingin saya katakan pada diri sendiri, “Buat
apa iri, Na? Mereka ada di sana karena mereka berjuang untuk mimpi mereka.
Mereka tak sepertimu, yang penakut, yang terlalu banyak berpikir, yang cuma
bisa diam dan duduk sampai sesuatu berubah.”
Tetapi kemudian, saya temukan catatan
kepenulisan seorang penulis muda. Katanya begini, “Dunia tidak berputar di
sekitarmu. Kamu ingin hidup sesuai passion-mu
tetapi kamu lupa bahwa hidupmu sampai detik ini masih dibiayai oleh orangtuamu.
Kecuali, jika kamu sudah mandiri, hiduplah sesuai apa yang kamu inginkan. Jika
tidak, hiduplah seperti apa yang ditetapkan padamu.” Tulisan itu ia tunjukkan
pada remaja lulusan SMA yang ingin memilih jurusan kuliah yang bertentangan
dengan apa yang diinginkan orangtua. Jauh berbeda memang, saya lebih tua, sudah
lulus kuliah pula, kok masih saja bermasalah dengan keinginan orangtua? Tetap
saja, tulisan itu membuat saya menurunkan ego dan mulai menuruti apa kata
orangtua.
Selesai begitu saja? Tidak. Ada sisi dari
nurani saya yang berkata, “Kenapa orangtua kadang bisa lebih egois? Padahal
saya sudah katakan alasan mengapa saya tak ingin menuruti mereka.”
Jawabannya saya temukan dari proses menulis
itu sendiri. Saat menulis dan menyelesaikan cerita, saya temukan bahwa menulis
membuat saya memahami pola pikir orang lain. Itu yang membuat saya mulai memahami
keinginan orangtua.
Ibu saya lahir sebagai anak pertama dari sebuah
keluarga sederhana di Desa. Kakek seorang supir angkutan umum dan nenek tidak
bekerja. Sejak SMP, ia sudah harus merantau ke kota, sendirian, demi memperoleh
pendidikan yang lebih baik. Ia menghabiskan tiga tahun belajar di Pesantren di
Kota Langsa. Lulus dari sana, ia melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah di
Banda Aceh. Demi pendidikan, ia rela jauh dari orangtua selama enam tahun
berurut-turut. Ibu menyenangi proses belajar tetapi sayang, sebagai perempuan
pertama di keluarganya, ia tidak bisa melangkah lebih jauh. Ia menikah,
mengurus keluarga, dan harus puas dengan label lulusan Sekolah Menengah Atas
saja.
Itu yang membuat saya akhirnya mengalah,
menuruti semua keinginan orangtua. Sebab pada satu momen, setelah
berbulan-bulan nego dengan keinginan
untuk menunda pendidikan S2, Ibu berkata, “Kalau saja waktu bisa berputar
balik, Bunda ingin melanjutkan kuliah.” Duarr,
seperti tembakan peluru tepat pada hati, saya langsung berhenti bernego tentang
pendidikan itu lagi.
Ada mimpi masa kecil Ibu yang kini ia
wariskan pada saya. Saya sayang keluarga saya dan tidak ingin membuat Ibu
kecewa. Persis seperti kutipan yang pernah saya baca, “Menerima sebuah
kegagalan itu seperti sebuah grafik naik-turun. Awalnya kamu akan menolak
mati-mati, hingga di satu titik, kamu mulai menerima itu jadi bagian hidupmu.”
Awalnya saya menolak melanjutkan S2, tetapi di satu titik, setelah menurunkan
ego dan memahami pola pikir Ibu, saya mulai menerima apa yang tak saya
inginkan.
Seiring waktu itu pula, saya belajar tentang
arti kekuatan seorang perempuan. Perempuan berhak mendapat pendidikan tinggi,
perempuan berhak belajar dan mengeksplor kehidupan layaknya laki-laki, dan
perempuan berhak menentukan kapan ia siap menjalani hubungan yang serius. Jangan terburu, masa bahagiamu perlu waktu
dan saat waktu itu tiba, yakinlah bahwa kamu sudah siap menuju bagian hidup
lainnya.
Hidup adalah bagian naik dan turun. Satu masa
kita akan merasa bahwa dunia diciptakan untuk kita, di masa lainnya kita akan
lantang berkata bahwa dunia tak adil dan tak membuat kita bahagia.
Saya tak tahu apakah dua puluh tiga:
kompleksitas ini akan bermakna sama dengan orang lain. Siapa tahu, di luar
sana, ada orang yang mengalami hidup jauh lebih rumit daripada saya. Saya cuma
bisa memberi tahu satu hal:
Jangan
menyerah dengan hidup. Ada banyak orang di luar sana yang menunggumu bahagia.
Kamu berharga dan ingat, mulailah dengan menerima dan memperbaiki sesuatu yang
kurang baik.
Dan catatan khusus, untuk diri sendiri,
sebelum menyambut dua puluh empat di tahun yang akan datang, “Berhentilah
cemas, Na. Kamu boleh berpikir tentang sesuatu yang buruk tetapi lakukanlah
karena kamu tak ingin menyesal di masa depan. Lakukanlah, karena kamu percaya,
hidup berhak atas sesuatu yang bernilai positif.”
