Perayaannya sudah berakhir.
Perjalanan empat tahun itu telah berakhir.
Tugas akhirnya sudah selesai. Sekelebat senyum orang-orang serta ucapan kini
hanya menjadi memori yang tertinggal di kepala. Saatnya menapaki titik hidup
yang baru.
Orang-orang hidup untuk mengapai tujuan mereka
masing-masing. Karier, pendidikan, atau sederhananya, mereka hanya ingin
bahagia menjalani kehidupan. Yang jelas, semua tujuan hanya akan dicapai dengan
mengikuti proses.
Aku telah lulus. Titel sarjana telah menempel
di belakang namaku. Lantas, setelah ini apa? Apa tujuan hidupku?
Seandainya menjawab itu semua semudah menjawab
pertanyaan orang-orang, “Apa yang akan
dilakukan setelah ini, Na? Bekerja? Lanjut magister?”
Aku menghela napas lelah. Terus memutar otak
untuk memberikan jawaban terbaik. Berusaha mengingat semua mimpi dan tujuan
hidup serupa daftar yang ingin dicapai.
Jika aku mampu mengurutkan dan menuliskannya
di sebuah buku catatan, mungkin aku akan tertawa getir melihat mimpi-mimpiku
yang ada disana. Seperti menjadi dokter
yang bekerja sukarela atau menjadi penerjemah handal yang dapat keliling dunia.
Mimpi naïf seorang gadis kecil saat umurnya bahkan belum genap 12 tahun.
Mimpi lainnya menjadi masuk akal saat aku
menjadi murid SMA. Aku tertarik pada dunia sains. Seperti … apa aksi yang menyebabkan
suatu reaksi. Aku selalu penasaran pada hasil percobaan di laboratorium.
Bagaimana hasil perkawinan antara dua tumbuhan yang berbeda? Mengapa suatu
penyakit hanya dapat diturunkan pada orang tertentu?
Dunia menulis adalah jalan lainnya. Aku sangat
suka membaca. Lagi-lagi aku penasaran dengan alasan orang-orang menulis. Sampai
akhirnya, aku terjun pada dunia itu dan menemukan alasan mengapa aku harus
menulis. Ada imaji di otakku yang
menari-nari. Ia terus mengetuk agar dapat dijadikan tulisan. Rasa lega
menelusuri hati saat satu tulisan telah selesai.
Aku menemukan obatnnya. Aku hanya perlu
menulis jika aku risau pada diriku sendiri. Menulis menjadi caraku sembuh atas
kepenatan hidup.
Tahun berjalan, umur bertambah, tetapi aku
sering merasa ingin menyerah. Mimpi-mimpi yang tertulis itu menjadi tak punya
makna. Aku bimbang tak tahu apa yang ingin kulakukan. Meskipun begitu,
kupaksakan kakiku terus melangkah.
Alasannya sederhana; aku hanya ingin belajar.
Tidak terbatas pada ilmu yang baru, tetapi juga belajar dari orang, tempat dan
waktu yang baru. Sebuah dunia asing yang
penuh kompleksitas.
Empat tahun di perguruan tinggi berjalan
baik-baik saja. Aku benar-benar belajar. Aku terus berusaha menyelesaikan semua
kewajibanku. Mimpi-mimpi baru kini menyusul mengantri di tujuan hidupku.
Kupikir, semuanya semudah itu. Perayaannya
berakhir dan aku kembali risau. Topi toga yang terlempar ke langit sudah
kembali menyentuh tanah. Euforianya, kegembiraannya, senyuman dan jabat tangan
itu semuanya berakhir.
Mereka menyebutnya, “inilah hidup yang sesungguhnya.”
Sesungguhnya makna hidup itu yang kini aku
pertanyakan. Dengan mimpi-mimpi yang tertulis pada daftar itu, mana yang lebih
dulu yang ingin aku capai? Bagaimana caraku mencapainya? Bila suatu hari nanti
ada sesuatu yang menghalangi mimpiku, apa yang dapat kulakukan untuk
mencegahnya?
Semoga, semuanya baik-baik saja.
Kutitipkan pesan untuk diriku sendiri di masa
depan. Tolong, jalani pilihanmu sebaik mungkin. Jangan menyerah pada mimpi
buruk yang menghantui langkah-langkah kecilmu. Semangatlah. Karena kita semua
adalah pejuang atas mimpi-mimpi kita.

0 komentar:
Posting Komentar