Senin, 16 Desember 2019

Well Done Again, My Friend!


Jika bisa berbicara pada masa lalu, apa yang ingin kamu sampaikan pada 2019?
Sebelum dia pergi dan kita tidak sempat berterima kasih.

Yang paling pertama, aku ingin berterima kasih kepada diri sendiri karena masih bertahan setelah tergelincir berkali-kali.

“Terima kasih karena setiap kali jatuh, kamu tak lupa bangkit lagi. Meski pakaianmu kini kotor, kamu tak peduli. Karena kamu hanya ingin melihat titik akhirnya. Karena kamu masih berusaha bangun untuk melihat ada apa di hari esok. Karena kamu masih memberi tubuhmu makanan yang baik. Karena kamu masih menghubungi teman-temanmu meski sekadar bertanya kabarnya.”

Yang kedua, aku ingin meminta maaf.

“Maaf karena pernah mengecewakan. Maaf karena tak jujur. Maaf karena meragukan segala tindak baikmu. Maaf karena aku jahat. Maaf karena aku tak sempurna dan aku menggunakannya untuk menyakitimu.

“Aku tau kamu sama tak baiknya. Punya banyak kurangnya. Sebab kita manusia, kan? Dan kita itu seperti puzzle. Pada masanya, kita akan menemukan kelebihan kita yang kita gunakan untuk menutup luka yang lain.”

Yang ketiga, terima kasih lagi. Namun, aku tunjukkan pada orang-orang di sekitarku.

“Untuk kalian, terima kasih masih di sisi menemani. Terima kasih masih mengulurkan tangan. Terima kasih karena masih memberi tahu kabarmu. Terima kasih karena masih mendengar. Terima kasih atas lelucon yang diberikan. Terima kasih atas gelak tawanya. Aku bersyukur mengenal kalian di saat aku pernah ragu, apa kalian yang aku bisa percaya?”

Hidup di 2019 seperti lelucon dengan bumbu sarkasme. Awalnya sakit hati, merasa tersindir, terus menarik diri. Namun, begitulah. Terlalu kejam hingga kamu tak lagi merasa itu kejam. Sini biar ku katakan alasannya mengapa.

Karena, Sayang, kamu menjadi lebih kuat.

Aku yakin kita masih ada di sini, menunggu tahun ini menggantikan dua digit terakhirnya sambil menerka lelucon apa yang akan ia tawarkan?

Semoga, lelucon itu kali ini membuat bibirmu tersenyum. Membuat tulang pipimu terlihat karena kamu tertawa dengan kebahagiaan yang tak dibuat-buat. Karena kamu ikhlas menjalani segala prosesnya.

Oh, sebentar, ada pesan masuk. Katanya begini:

Hei, terima kasih karena sudah membaca ini.  Terima kasih karena tak pernah melewatkan satu sekon pun dari bagian hidupmu untuk bersyukur. Maafkan segala kurangnya kita di masa lalu sehingga kita layak untuk menjadi lebih kuat. Kedepannya, mari sama-sama mengusahakan diri yang terbaik. Karena, Sayang, sebelum terang, selalu ada gelap dan karena itulah bumi masih punya tujuan hidupnya; terus berotasi. Well done again, My Friend!”



0 komentar:

Posting Komentar