Jika bisa berbicara pada masa lalu, apa yang ingin
kamu sampaikan pada 2019?
Sebelum dia pergi dan kita tidak sempat
berterima kasih.
Yang paling pertama, aku ingin berterima
kasih kepada diri sendiri karena masih bertahan setelah tergelincir
berkali-kali.
“Terima kasih karena setiap kali jatuh, kamu
tak lupa bangkit lagi. Meski pakaianmu kini kotor, kamu tak peduli. Karena kamu
hanya ingin melihat titik akhirnya. Karena kamu masih berusaha bangun untuk
melihat ada apa di hari esok. Karena kamu masih memberi tubuhmu makanan yang
baik. Karena kamu masih menghubungi teman-temanmu meski sekadar bertanya
kabarnya.”
Yang kedua, aku ingin meminta maaf.
“Maaf karena pernah mengecewakan. Maaf karena
tak jujur. Maaf karena meragukan segala tindak baikmu. Maaf karena aku jahat.
Maaf karena aku tak sempurna dan aku menggunakannya untuk menyakitimu.
“Aku tau kamu sama tak baiknya. Punya banyak
kurangnya. Sebab kita manusia, kan? Dan kita itu seperti puzzle. Pada masanya, kita akan menemukan kelebihan kita yang kita
gunakan untuk menutup luka yang lain.”
Yang ketiga, terima kasih lagi. Namun, aku
tunjukkan pada orang-orang di sekitarku.
“Untuk kalian, terima kasih masih di sisi
menemani. Terima kasih masih mengulurkan tangan. Terima kasih karena masih
memberi tahu kabarmu. Terima kasih karena masih mendengar. Terima kasih atas
lelucon yang diberikan. Terima kasih atas gelak tawanya. Aku bersyukur mengenal
kalian di saat aku pernah ragu, apa kalian yang aku bisa percaya?”
Hidup di 2019 seperti lelucon dengan bumbu
sarkasme. Awalnya sakit hati, merasa tersindir, terus menarik diri. Namun,
begitulah. Terlalu kejam hingga kamu tak lagi merasa itu kejam. Sini biar ku katakan
alasannya mengapa.
Karena, Sayang, kamu menjadi lebih kuat.
Aku yakin kita masih ada di sini, menunggu
tahun ini menggantikan dua digit terakhirnya sambil menerka lelucon apa yang
akan ia tawarkan?
Semoga, lelucon itu kali ini membuat bibirmu
tersenyum. Membuat tulang pipimu terlihat karena kamu tertawa dengan
kebahagiaan yang tak dibuat-buat. Karena kamu ikhlas menjalani segala prosesnya.
Oh, sebentar, ada pesan masuk. Katanya
begini:
“Hei,
terima kasih karena sudah membaca ini. Terima
kasih karena tak pernah melewatkan satu sekon pun dari bagian hidupmu untuk
bersyukur. Maafkan segala kurangnya kita di masa lalu sehingga kita layak untuk
menjadi lebih kuat. Kedepannya, mari sama-sama mengusahakan diri yang terbaik.
Karena, Sayang, sebelum terang, selalu ada gelap dan karena itulah bumi masih
punya tujuan hidupnya; terus berotasi. Well done again, My Friend!”
0 komentar:
Posting Komentar