Kamis, 20 September 2018

Kita Tidak Sedang Baik-Baik Saja




        Sisi kiriku terasa lebih kosong dari sebelumnya. Rasanya tidak baik-baik saja saat melihat sesuatu yang familiar kini terasa semakin asing. 

        Jarak kita perlahan semakin menjauh. Semua obrolan kita menjadi semakin singkat, tidak padat, dan aku menganggapnya ada ketidakikhlasan dari diri kita untuk membuka diri. 

        Maafkan pemikiranku yang tak sejalan denganmu. Aku bingung harus mengatakannya bagaimana, tapi sepertinya bukan hanya kamu yang mengambil jarak itu dariku, aku pun melakukan hal yang sama. 

        Setidaknya, aku bersyukur pernah menjadi bagian dari ikatan itu. Ikatan yang sungguh manis. Sebab kita selalu menjadi rekan yang berbagi cerita suka dan duka bersama. Bersama kenangan itu, kamu sudah melihat sisi terbaik dan terburukku dan kuharap kamu tidak menghakimi masa laluku. 

        Kita pernah terluka setidaknya sekali dalam hidup. Itu sebabnya aku sulit percaya dengan orang lain. Namun denganmu, ku ceritakan segala lukaku. Segala pengorbanan yang kulakukan dan air mata yang mengalir bersama kenangan buruk itu. 

        Maaf aku terlalu angkuh untuk menyapamu lebih dulu. Maaf aku memberimu jarak saat kamu membutuhkanku. Maaf karena diriku menjadi semakin lemah dan aku membencinya. 

        Aku benci menjadi lemah. Aku benci harus mengakuinya lebih dulu. I miss you. 

        Delapan huruf itu tak pernah sembarang kuucap karena aku tak ingin orang mendengar sebuah tipuan. Meski ilusi kadang terasa lebih menenangkan hati. Tapi aku tak mengucapkannya hanya untuk membuatmu merasa di atas awan. Aku mengakui bahwa aku kalah. 

        Menakjubkan rasanya bahwa kita pernah sangat dekat. Kita pernah saling berbagi emosi.  Kita pernah berada dalam satu garis yang sama sebelum aku harus mengatakan apa saja yang kupikirkan pada hari ini. 

        Hari ini rasanya masih sama saja seperti kemarin. Ketika aku memejamkan mata yang kubayangkan adalah figurmu yang menyenangkan dan menyebalkan. Kita tidak sedang baik-baik saja dan jika kamu benar-benar menginginkan hal yang sama seperti diriku, mari berharap agar kita benar-benar bisa saling menghapus jarak ini. 

        Karena aku sudah mengatakannya delapan huruf itu lebih dulu, kuharap kamu akan melakukan hal serupa untukku. 

        If all it is eight letters, why is it so hard to say?
Read More

Minggu, 09 September 2018

Setelah Perayaannya Berakhir


        Perayaannya sudah berakhir. 

        Perjalanan empat tahun itu telah berakhir. Tugas akhirnya sudah selesai. Sekelebat senyum orang-orang serta ucapan kini hanya menjadi memori yang tertinggal di kepala. Saatnya menapaki titik hidup yang baru. 
  
        Orang-orang hidup untuk mengapai tujuan mereka masing-masing. Karier, pendidikan, atau sederhananya, mereka hanya ingin bahagia menjalani kehidupan. Yang jelas, semua tujuan hanya akan dicapai dengan mengikuti proses. 
 
        Aku telah lulus. Titel sarjana telah menempel di belakang namaku. Lantas, setelah ini apa? Apa tujuan hidupku? 

        Seandainya menjawab itu semua semudah menjawab pertanyaan orang-orang, “Apa yang akan dilakukan setelah ini, Na? Bekerja? Lanjut magister?”
 
        Aku menghela napas lelah. Terus memutar otak untuk memberikan jawaban terbaik. Berusaha mengingat semua mimpi dan tujuan hidup serupa daftar yang ingin dicapai. 

        Jika aku mampu mengurutkan dan menuliskannya di sebuah buku catatan, mungkin aku akan tertawa getir melihat mimpi-mimpiku yang ada disana.  Seperti menjadi dokter yang bekerja sukarela atau menjadi penerjemah handal yang dapat keliling dunia. Mimpi naïf seorang gadis kecil saat umurnya bahkan belum genap 12 tahun. 
  
        Mimpi lainnya menjadi masuk akal saat aku menjadi murid SMA. Aku tertarik pada dunia sains. Seperti … apa aksi yang menyebabkan suatu reaksi. Aku selalu penasaran pada hasil percobaan di laboratorium. Bagaimana hasil perkawinan antara dua tumbuhan yang berbeda? Mengapa suatu penyakit hanya dapat diturunkan pada orang tertentu? 
  
        Dunia menulis adalah jalan lainnya. Aku sangat suka membaca. Lagi-lagi aku penasaran dengan alasan orang-orang menulis. Sampai akhirnya, aku terjun pada dunia itu dan menemukan alasan mengapa aku harus menulis.  Ada imaji di otakku yang menari-nari. Ia terus mengetuk agar dapat dijadikan tulisan. Rasa lega menelusuri hati saat satu tulisan telah selesai.

        Aku menemukan obatnnya. Aku hanya perlu menulis jika aku risau pada diriku sendiri. Menulis menjadi caraku sembuh atas kepenatan hidup. 

        Tahun berjalan, umur bertambah, tetapi aku sering merasa ingin menyerah. Mimpi-mimpi yang tertulis itu menjadi tak punya makna. Aku bimbang tak tahu apa yang ingin kulakukan. Meskipun begitu, kupaksakan kakiku terus melangkah. 

        Alasannya sederhana; aku hanya ingin belajar. Tidak terbatas pada ilmu yang baru, tetapi juga belajar dari orang, tempat dan waktu  yang baru. Sebuah dunia asing yang penuh kompleksitas. 

        Empat tahun di perguruan tinggi berjalan baik-baik saja. Aku benar-benar belajar. Aku terus berusaha menyelesaikan semua kewajibanku. Mimpi-mimpi baru kini menyusul mengantri di tujuan hidupku. 

        Kupikir, semuanya semudah itu. Perayaannya berakhir dan aku kembali risau. Topi toga yang terlempar ke langit sudah kembali menyentuh tanah. Euforianya, kegembiraannya, senyuman dan jabat tangan itu semuanya berakhir. 

        Mereka menyebutnya, “inilah hidup yang sesungguhnya.” 

        Sesungguhnya makna hidup itu yang kini aku pertanyakan. Dengan mimpi-mimpi yang tertulis pada daftar itu, mana yang lebih dulu yang ingin aku capai? Bagaimana caraku mencapainya? Bila suatu hari nanti ada sesuatu yang menghalangi mimpiku, apa yang dapat kulakukan untuk mencegahnya? 
   
        Semoga, semuanya baik-baik saja. 
   
        Kutitipkan pesan untuk diriku sendiri di masa depan. Tolong, jalani pilihanmu sebaik mungkin. Jangan menyerah pada mimpi buruk yang menghantui langkah-langkah kecilmu. Semangatlah. Karena kita semua adalah pejuang atas mimpi-mimpi kita. 





Read More