Kamis, 18 Juni 2020

Dua Puluh Empat: Menormalkan hal-hal yang Baik



Tulisan personal ini ditulis setiap tahun, dipublikasikan sebagai hadiah untuk hari kelahiran. Yang dimaksud personal di sini adalah segala cerita dan misuh-misuh diri sendiri yang mungkin nggak akan cocok untuk semua orang.

*

“HAHAHAHAH”.

Pada tulisan terakhir di 2019, aku jelas-jelas menulis, ‘semoga 2020 menawarkan lelucon yang bikin kita tertawa.’ Siapa sangka lelucon yang terwujud adalah dua bencana yang terjadi dalam waktu yang bersamaan: Pandemi Covid-19 dan banjir pertama setelah 20 tahun terakhir. Oh, itu di kotaku tetapi kota lain juga mungkin merasakan hal yang sama.

Kita memulai 2020 dengan berita Pandemi Covid sudah mewabah hampir ke seluruh pelosok negeri. Orang-orang jadi menunjukkan tabiat aslinya. Ada yang masih peduli dengan orang-orang di sekitarnya, menggalang dana, membantu tim medis garda terdepan melawan covid sampai dengan memerangi hoax—selain simpang siur ternyata juga nggak jelas asal usulnya. Aku doakan balasan yang terbaik untuk semuanya.

Yang berkelakuan buruk? Juga ada. Sempat terjadi panic buying di mana-mana. Penimbunan masker, hand sanitizer dan alat-alat kesehatan, serta penyebaran hoax yang bikin protokol kesehatan malah diabaikan. Nggak mau mengikuti physical distancing juga.

Duh, nggak punya rasa takut atau nyawanya sembilan kayak kucing, sih? Asli, kesal. Tinggal di rumah sebisa mungkin, turuti protokol kesehatan. Worst case scenario aja, kalau sampai pasien kebanyakan terus diri sendiri nggak terurus lagi sama tim medis gimana?

Terus sekarang disebut-sebut, udah mulai gelombang kedua Covid-nya ya? Dari transmisi lokal.

Masalah pemakaian masker juga. Sempat terjadi kelangkaan barang di pasar. Namun, orang-orang diharuskan mampu beradaptasi. Akhirnya keluarlah banyak model dan corak masker kain. Sebenarnya, sebelum pandemik ini menganggu aktivitas keseharian, aku tipe manusia yang kalau keluar rumah pasti dengan masker kain. Alasannya? Banda Aceh berdebu karena panas. Saking terbiasanya, ketika orang-orang menganggap pemakaian masker waktu ke luar rumah jadi new normal, aku mendefinisikan ini sebagai keseharian yang normal.

Bencana kedua: banjir di pertengahan Ramadan. Aceh dilanda hujan non-stop sejak tanggal 7 Mei atau bahkan sebelumnya(?) Aku nggak yakin dengan tanggalnya. Yang jelas hujannya nggak ngasih jeda. Sudah ada peringatan BMKG juga. Ada belokan angin yang mengakibatkan uap air terbawa dan terkumpul di atmosfer Aceh. Keadaan tersebut mengakibatkan tumbuhnya awan konvektif pembawa hujan, angin kencang, dan petir.

Memori terakhir yang diingat tentang banjir besar itu tahun 2000 di Banda Aceh. Masih kecil-kecil TK atau SD. 2020 terjadi lagi banjir besar dan memberi dampak buat banyak orang di bulan Ramadan.

Pembahasan bencana udah selesai, selanjutnya apa?

Pembaca tulisanku di blog mungkin menyadari perubahan gaya menulis. Yang dulu banyak sok puitisnya, ya kan? Bermain dengan kata. Mungkin yang kali ini, lebih terus-terang aja. Kenapa berubah?

Aku bukan seseorang yang dilahirkan dengan kepercayaan diri tinggi. Berbicara sana-sini tentang apa yang menarik hati. Lebih sering memedam sendiri dan kalau udah nggak kuat dipikirin, ya dijadikan bahan tulisan. Efeknya, orang-orang salah paham. Mereka mengira aku orang yang melankolis. Satu hari, aku mendapati seseorang berkata seperti ini,

“Duh, tulisan di twitter-nya sok puitis.”

Ya Allah. Sedih banget cuma gara-gara foto hasil tulisan dan mencuit hal-hal yang puitis dianggap beneran punya kepribadian begitu. Banyak banget hal-hal yang bisa dijadikan inspirasi menulis; lagu, kutipan buku sampai dialog film dan nggak semuanya mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Galau-galau karena sepotong lirik lagu dianggap lagi risau sendiri dalam realitanya.

Aku baik-baik saja. Nggak ada yang perlu dipertanyakan dan dikomentari dari tulisan yang mungkin nggak sampai 280 karakter.

Dan seperti yang aku sebutkan di beberapa paragraf sebelumya, aku bukan seseorang dengan kepercayaan diri yang bagus. Dikomentari begitu aja udah bikin mawas diri. Ditambah pertanyaan lain, “Kok nggak pernah nerbitin tulisan lainnya ke publik? Kenapa cuma dijadikan koleksi pribadi?”

Bukan nggak mau. Namun, belum sanggup menghadapi komentar orang-orang. Tulisan 280 karakter aja dianggap lagi galau, terus tulisan lain dianggap mencerminkan kepribadian dan pandangan yang sebenarnya?

Sini biar aku jelaskan gimana dunia tulis-menulis bekerja. Ada yang namanya riset dan observasi. Kita melihat cara orang memandang dunia di sekitarnya. Kita meminjam mata dan otaknya lantas memikirkan bagaimana jika dia menghadapi karakter tersebut. Karakter orang itu kan beragam dan nggak punya batas; bisa melankolis, kuat, punya pendirian teguh, cringy, garing, dan suka ikut campur, bahkan menyalahi norma. Ketika seorang penulis menulis tentang mereka, bukan berarti penulis memihak dan membenarkan perilaku mereka.

Penulis hanya menunjukkan pola pikir mereka dan belum tentu sependapat dengan cara pandang mereka. Mungkin penulis berusaha bersikap netral dan nggak subjektif. Ingat! Jangan gara-gara paragraf-paragraf ini bikin kalian lihat tulisan mencerminkan 100% keadaan sebenarnya si penulis.

Ya ampun, misuh-misuh terus kan jadinya. Dah lanjut.

Tapi kan, kalau terus diam di zona nyamannya dan nggak pernah siap menghadapi komentar orang-orang bikin kita nggak maju? Benar! Makanya di 2020 ini, aku sedang berubah menjadi normal yang baik, kayak judulnya.

Normal yang baik di sini merujuk pada keadaan orang-orang di luar sana yang biasa aja menghadapi tanggapan orang lain. Aku sedang berusaha berubah menjadi lebih baik dan siap dengan tanggapan orang lain. Belakangan aku kenal istilah ini dari sebuah filosofi yang bernama Stoicism.

Aku bukan orang yang mungkin tepat untuk menjelaskan ini tetapi filosofi stoicism ini mengajarkan satu keadaan untuk hanya memedulikan hal-hal yang ada dalam kendali diri kita dan mengabaikan hal-hal yang nggak bisa kita kendalikan. Kita bisa mengendalikan diri cara menyikapi sesuatu tetapi kita nggak bisa mengendalikan komentar orang-orang terhadap kita. Itulah yang sedang aku pelajari. Bagaimana caranya agar nggak terpengaruh gara-gara dugaan dan komentar orang lain terhadap tulisan diri sendiri.

Sulit? Tentu saja. Tetapi kita bisa apa kalau bukan mencobanya sekarang?

Aku rasa itu yang terakhir dan nggak ada yang bisa dibahas lagi. 2020 baru berjalan setengahnya dan rasanya dua puluh empat ini memberi banyak sekali cara pandang baru bagaimana kita menghadapi sesuatu. Beradaptasi, menjalani new normal, dan belajar untuk lebih percaya diri dan nggak memedulikan hal-hal yang memang nggak bisa dikendalikan. Seperti biasanya, sebuah pesan terakhir penutup tulisan,

Manusia nggak sempurna, banyak celanya. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah mengontrol diri sendiri untuk menjadi sosok yang lebih baik.






0 komentar:

Posting Komentar