Tulisan personal ini ditulis setiap tahun,
dipublikasikan sebagai hadiah untuk hari kelahiran. Yang dimaksud personal di
sini adalah segala cerita dan misuh-misuh diri sendiri yang mungkin nggak akan
cocok untuk semua orang.
*
“HAHAHAHAH”.
Pada tulisan
terakhir di 2019, aku jelas-jelas menulis, ‘semoga
2020 menawarkan lelucon yang bikin kita tertawa.’ Siapa sangka lelucon yang
terwujud adalah dua bencana yang terjadi dalam waktu yang bersamaan: Pandemi
Covid-19 dan banjir pertama setelah 20 tahun terakhir. Oh, itu di kotaku tetapi
kota lain juga mungkin merasakan hal yang sama.
Kita memulai
2020 dengan berita Pandemi Covid sudah mewabah hampir ke seluruh pelosok
negeri. Orang-orang jadi menunjukkan tabiat aslinya. Ada yang masih peduli
dengan orang-orang di sekitarnya, menggalang dana, membantu tim medis garda
terdepan melawan covid sampai dengan memerangi hoax—selain simpang siur ternyata juga nggak jelas asal usulnya.
Aku doakan balasan yang terbaik untuk semuanya.
Yang
berkelakuan buruk? Juga ada. Sempat terjadi panic
buying di mana-mana. Penimbunan masker, hand
sanitizer dan alat-alat kesehatan, serta penyebaran hoax yang bikin protokol kesehatan malah diabaikan. Nggak mau
mengikuti physical distancing juga.
Duh, nggak
punya rasa takut atau nyawanya sembilan kayak kucing, sih? Asli, kesal. Tinggal
di rumah sebisa mungkin, turuti protokol kesehatan. Worst case scenario aja, kalau sampai pasien kebanyakan terus diri
sendiri nggak terurus lagi sama tim medis gimana?
Terus
sekarang disebut-sebut, udah mulai gelombang kedua Covid-nya ya? Dari transmisi
lokal.
Masalah
pemakaian masker juga. Sempat terjadi kelangkaan barang di pasar. Namun,
orang-orang diharuskan mampu beradaptasi. Akhirnya keluarlah banyak model dan
corak masker kain. Sebenarnya, sebelum pandemik ini menganggu aktivitas
keseharian, aku tipe manusia yang kalau keluar rumah pasti dengan masker kain.
Alasannya? Banda Aceh berdebu karena panas. Saking terbiasanya, ketika
orang-orang menganggap pemakaian masker waktu ke luar rumah jadi new normal, aku mendefinisikan ini
sebagai keseharian yang normal.
Bencana
kedua: banjir di pertengahan Ramadan. Aceh dilanda hujan non-stop sejak tanggal 7 Mei atau bahkan sebelumnya(?) Aku nggak
yakin dengan tanggalnya. Yang jelas hujannya nggak ngasih jeda. Sudah ada
peringatan BMKG juga. Ada belokan angin yang mengakibatkan uap air terbawa dan
terkumpul di atmosfer Aceh. Keadaan tersebut mengakibatkan tumbuhnya awan
konvektif pembawa hujan, angin kencang, dan petir.
Memori terakhir
yang diingat tentang banjir besar itu tahun 2000 di Banda Aceh. Masih
kecil-kecil TK atau SD. 2020 terjadi lagi banjir besar dan memberi dampak buat
banyak orang di bulan Ramadan.
Pembahasan
bencana udah selesai, selanjutnya apa?
Pembaca
tulisanku di blog mungkin menyadari perubahan gaya menulis. Yang dulu banyak
sok puitisnya, ya kan? Bermain dengan kata. Mungkin yang kali ini, lebih
terus-terang aja. Kenapa berubah?
Aku bukan
seseorang yang dilahirkan dengan kepercayaan diri tinggi. Berbicara sana-sini
tentang apa yang menarik hati. Lebih sering memedam sendiri dan kalau udah
nggak kuat dipikirin, ya dijadikan bahan tulisan. Efeknya, orang-orang salah
paham. Mereka mengira aku orang yang melankolis. Satu hari, aku mendapati
seseorang berkata seperti ini,
“Duh,
tulisan di twitter-nya sok puitis.”
Ya Allah. Sedih banget cuma gara-gara
foto hasil tulisan dan mencuit hal-hal yang puitis dianggap beneran punya
kepribadian begitu. Banyak banget hal-hal yang bisa dijadikan inspirasi
menulis; lagu, kutipan buku sampai dialog film dan nggak semuanya mencerminkan
keadaan yang sebenarnya. Galau-galau karena sepotong lirik lagu dianggap lagi
risau sendiri dalam realitanya.
Aku
baik-baik saja. Nggak ada yang perlu dipertanyakan dan dikomentari dari tulisan
yang mungkin nggak sampai 280 karakter.
Dan seperti
yang aku sebutkan di beberapa paragraf sebelumya, aku bukan seseorang dengan
kepercayaan diri yang bagus. Dikomentari begitu aja udah bikin mawas diri.
Ditambah pertanyaan lain, “Kok nggak pernah nerbitin tulisan lainnya ke publik?
Kenapa cuma dijadikan koleksi pribadi?”
Bukan nggak
mau. Namun, belum sanggup menghadapi komentar orang-orang. Tulisan 280 karakter
aja dianggap lagi galau, terus tulisan lain dianggap mencerminkan kepribadian
dan pandangan yang sebenarnya?
Sini biar aku
jelaskan gimana dunia tulis-menulis bekerja. Ada yang namanya riset dan
observasi. Kita melihat cara orang memandang dunia di sekitarnya. Kita meminjam
mata dan otaknya lantas memikirkan bagaimana jika dia menghadapi karakter
tersebut. Karakter orang itu kan beragam dan nggak punya batas; bisa
melankolis, kuat, punya pendirian teguh, cringy,
garing, dan suka ikut campur, bahkan menyalahi norma. Ketika seorang penulis
menulis tentang mereka, bukan berarti penulis memihak dan membenarkan perilaku
mereka.
Penulis
hanya menunjukkan pola pikir mereka dan belum tentu sependapat dengan cara
pandang mereka. Mungkin penulis berusaha bersikap netral dan nggak subjektif.
Ingat! Jangan gara-gara paragraf-paragraf ini bikin kalian lihat tulisan
mencerminkan 100% keadaan sebenarnya si penulis.
Ya ampun,
misuh-misuh terus kan jadinya. Dah lanjut.
Tapi kan,
kalau terus diam di zona nyamannya dan nggak pernah siap menghadapi komentar
orang-orang bikin kita nggak maju? Benar! Makanya di 2020 ini, aku sedang
berubah menjadi normal yang baik, kayak judulnya.
Normal yang
baik di sini merujuk pada keadaan orang-orang di luar sana yang biasa aja
menghadapi tanggapan orang lain. Aku sedang berusaha berubah menjadi lebih baik
dan siap dengan tanggapan orang lain. Belakangan aku kenal istilah ini dari sebuah
filosofi yang bernama Stoicism.
Aku bukan
orang yang mungkin tepat untuk menjelaskan ini tetapi filosofi stoicism ini
mengajarkan satu keadaan untuk hanya memedulikan hal-hal yang ada dalam kendali
diri kita dan mengabaikan hal-hal yang nggak bisa kita kendalikan. Kita bisa
mengendalikan diri cara menyikapi sesuatu tetapi kita nggak bisa mengendalikan
komentar orang-orang terhadap kita. Itulah yang sedang aku pelajari. Bagaimana
caranya agar nggak terpengaruh gara-gara dugaan dan komentar orang lain
terhadap tulisan diri sendiri.
Sulit? Tentu
saja. Tetapi kita bisa apa kalau bukan mencobanya sekarang?
Aku rasa itu
yang terakhir dan nggak ada yang bisa dibahas lagi. 2020 baru berjalan
setengahnya dan rasanya dua puluh empat ini memberi banyak sekali cara pandang
baru bagaimana kita menghadapi sesuatu. Beradaptasi, menjalani new normal, dan belajar untuk lebih
percaya diri dan nggak memedulikan hal-hal yang memang nggak bisa dikendalikan.
Seperti biasanya, sebuah pesan terakhir penutup tulisan,
Manusia nggak sempurna, banyak celanya.
Tetapi yang bisa kita lakukan adalah mengontrol diri sendiri untuk menjadi sosok
yang lebih baik.


