Kamis, 18 Juni 2020

Dua Puluh Empat: Menormalkan hal-hal yang Baik



Tulisan personal ini ditulis setiap tahun, dipublikasikan sebagai hadiah untuk hari kelahiran. Yang dimaksud personal di sini adalah segala cerita dan misuh-misuh diri sendiri yang mungkin nggak akan cocok untuk semua orang.

*

“HAHAHAHAH”.

Pada tulisan terakhir di 2019, aku jelas-jelas menulis, ‘semoga 2020 menawarkan lelucon yang bikin kita tertawa.’ Siapa sangka lelucon yang terwujud adalah dua bencana yang terjadi dalam waktu yang bersamaan: Pandemi Covid-19 dan banjir pertama setelah 20 tahun terakhir. Oh, itu di kotaku tetapi kota lain juga mungkin merasakan hal yang sama.

Kita memulai 2020 dengan berita Pandemi Covid sudah mewabah hampir ke seluruh pelosok negeri. Orang-orang jadi menunjukkan tabiat aslinya. Ada yang masih peduli dengan orang-orang di sekitarnya, menggalang dana, membantu tim medis garda terdepan melawan covid sampai dengan memerangi hoax—selain simpang siur ternyata juga nggak jelas asal usulnya. Aku doakan balasan yang terbaik untuk semuanya.

Yang berkelakuan buruk? Juga ada. Sempat terjadi panic buying di mana-mana. Penimbunan masker, hand sanitizer dan alat-alat kesehatan, serta penyebaran hoax yang bikin protokol kesehatan malah diabaikan. Nggak mau mengikuti physical distancing juga.

Duh, nggak punya rasa takut atau nyawanya sembilan kayak kucing, sih? Asli, kesal. Tinggal di rumah sebisa mungkin, turuti protokol kesehatan. Worst case scenario aja, kalau sampai pasien kebanyakan terus diri sendiri nggak terurus lagi sama tim medis gimana?

Terus sekarang disebut-sebut, udah mulai gelombang kedua Covid-nya ya? Dari transmisi lokal.

Masalah pemakaian masker juga. Sempat terjadi kelangkaan barang di pasar. Namun, orang-orang diharuskan mampu beradaptasi. Akhirnya keluarlah banyak model dan corak masker kain. Sebenarnya, sebelum pandemik ini menganggu aktivitas keseharian, aku tipe manusia yang kalau keluar rumah pasti dengan masker kain. Alasannya? Banda Aceh berdebu karena panas. Saking terbiasanya, ketika orang-orang menganggap pemakaian masker waktu ke luar rumah jadi new normal, aku mendefinisikan ini sebagai keseharian yang normal.

Bencana kedua: banjir di pertengahan Ramadan. Aceh dilanda hujan non-stop sejak tanggal 7 Mei atau bahkan sebelumnya(?) Aku nggak yakin dengan tanggalnya. Yang jelas hujannya nggak ngasih jeda. Sudah ada peringatan BMKG juga. Ada belokan angin yang mengakibatkan uap air terbawa dan terkumpul di atmosfer Aceh. Keadaan tersebut mengakibatkan tumbuhnya awan konvektif pembawa hujan, angin kencang, dan petir.

Memori terakhir yang diingat tentang banjir besar itu tahun 2000 di Banda Aceh. Masih kecil-kecil TK atau SD. 2020 terjadi lagi banjir besar dan memberi dampak buat banyak orang di bulan Ramadan.

Pembahasan bencana udah selesai, selanjutnya apa?

Pembaca tulisanku di blog mungkin menyadari perubahan gaya menulis. Yang dulu banyak sok puitisnya, ya kan? Bermain dengan kata. Mungkin yang kali ini, lebih terus-terang aja. Kenapa berubah?

Aku bukan seseorang yang dilahirkan dengan kepercayaan diri tinggi. Berbicara sana-sini tentang apa yang menarik hati. Lebih sering memedam sendiri dan kalau udah nggak kuat dipikirin, ya dijadikan bahan tulisan. Efeknya, orang-orang salah paham. Mereka mengira aku orang yang melankolis. Satu hari, aku mendapati seseorang berkata seperti ini,

“Duh, tulisan di twitter-nya sok puitis.”

Ya Allah. Sedih banget cuma gara-gara foto hasil tulisan dan mencuit hal-hal yang puitis dianggap beneran punya kepribadian begitu. Banyak banget hal-hal yang bisa dijadikan inspirasi menulis; lagu, kutipan buku sampai dialog film dan nggak semuanya mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Galau-galau karena sepotong lirik lagu dianggap lagi risau sendiri dalam realitanya.

Aku baik-baik saja. Nggak ada yang perlu dipertanyakan dan dikomentari dari tulisan yang mungkin nggak sampai 280 karakter.

Dan seperti yang aku sebutkan di beberapa paragraf sebelumya, aku bukan seseorang dengan kepercayaan diri yang bagus. Dikomentari begitu aja udah bikin mawas diri. Ditambah pertanyaan lain, “Kok nggak pernah nerbitin tulisan lainnya ke publik? Kenapa cuma dijadikan koleksi pribadi?”

Bukan nggak mau. Namun, belum sanggup menghadapi komentar orang-orang. Tulisan 280 karakter aja dianggap lagi galau, terus tulisan lain dianggap mencerminkan kepribadian dan pandangan yang sebenarnya?

Sini biar aku jelaskan gimana dunia tulis-menulis bekerja. Ada yang namanya riset dan observasi. Kita melihat cara orang memandang dunia di sekitarnya. Kita meminjam mata dan otaknya lantas memikirkan bagaimana jika dia menghadapi karakter tersebut. Karakter orang itu kan beragam dan nggak punya batas; bisa melankolis, kuat, punya pendirian teguh, cringy, garing, dan suka ikut campur, bahkan menyalahi norma. Ketika seorang penulis menulis tentang mereka, bukan berarti penulis memihak dan membenarkan perilaku mereka.

Penulis hanya menunjukkan pola pikir mereka dan belum tentu sependapat dengan cara pandang mereka. Mungkin penulis berusaha bersikap netral dan nggak subjektif. Ingat! Jangan gara-gara paragraf-paragraf ini bikin kalian lihat tulisan mencerminkan 100% keadaan sebenarnya si penulis.

Ya ampun, misuh-misuh terus kan jadinya. Dah lanjut.

Tapi kan, kalau terus diam di zona nyamannya dan nggak pernah siap menghadapi komentar orang-orang bikin kita nggak maju? Benar! Makanya di 2020 ini, aku sedang berubah menjadi normal yang baik, kayak judulnya.

Normal yang baik di sini merujuk pada keadaan orang-orang di luar sana yang biasa aja menghadapi tanggapan orang lain. Aku sedang berusaha berubah menjadi lebih baik dan siap dengan tanggapan orang lain. Belakangan aku kenal istilah ini dari sebuah filosofi yang bernama Stoicism.

Aku bukan orang yang mungkin tepat untuk menjelaskan ini tetapi filosofi stoicism ini mengajarkan satu keadaan untuk hanya memedulikan hal-hal yang ada dalam kendali diri kita dan mengabaikan hal-hal yang nggak bisa kita kendalikan. Kita bisa mengendalikan diri cara menyikapi sesuatu tetapi kita nggak bisa mengendalikan komentar orang-orang terhadap kita. Itulah yang sedang aku pelajari. Bagaimana caranya agar nggak terpengaruh gara-gara dugaan dan komentar orang lain terhadap tulisan diri sendiri.

Sulit? Tentu saja. Tetapi kita bisa apa kalau bukan mencobanya sekarang?

Aku rasa itu yang terakhir dan nggak ada yang bisa dibahas lagi. 2020 baru berjalan setengahnya dan rasanya dua puluh empat ini memberi banyak sekali cara pandang baru bagaimana kita menghadapi sesuatu. Beradaptasi, menjalani new normal, dan belajar untuk lebih percaya diri dan nggak memedulikan hal-hal yang memang nggak bisa dikendalikan. Seperti biasanya, sebuah pesan terakhir penutup tulisan,

Manusia nggak sempurna, banyak celanya. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah mengontrol diri sendiri untuk menjadi sosok yang lebih baik.






Read More

Senin, 16 Desember 2019

Well Done Again, My Friend!


Jika bisa berbicara pada masa lalu, apa yang ingin kamu sampaikan pada 2019?
Sebelum dia pergi dan kita tidak sempat berterima kasih.

Yang paling pertama, aku ingin berterima kasih kepada diri sendiri karena masih bertahan setelah tergelincir berkali-kali.

“Terima kasih karena setiap kali jatuh, kamu tak lupa bangkit lagi. Meski pakaianmu kini kotor, kamu tak peduli. Karena kamu hanya ingin melihat titik akhirnya. Karena kamu masih berusaha bangun untuk melihat ada apa di hari esok. Karena kamu masih memberi tubuhmu makanan yang baik. Karena kamu masih menghubungi teman-temanmu meski sekadar bertanya kabarnya.”

Yang kedua, aku ingin meminta maaf.

“Maaf karena pernah mengecewakan. Maaf karena tak jujur. Maaf karena meragukan segala tindak baikmu. Maaf karena aku jahat. Maaf karena aku tak sempurna dan aku menggunakannya untuk menyakitimu.

“Aku tau kamu sama tak baiknya. Punya banyak kurangnya. Sebab kita manusia, kan? Dan kita itu seperti puzzle. Pada masanya, kita akan menemukan kelebihan kita yang kita gunakan untuk menutup luka yang lain.”

Yang ketiga, terima kasih lagi. Namun, aku tunjukkan pada orang-orang di sekitarku.

“Untuk kalian, terima kasih masih di sisi menemani. Terima kasih masih mengulurkan tangan. Terima kasih karena masih memberi tahu kabarmu. Terima kasih karena masih mendengar. Terima kasih atas lelucon yang diberikan. Terima kasih atas gelak tawanya. Aku bersyukur mengenal kalian di saat aku pernah ragu, apa kalian yang aku bisa percaya?”

Hidup di 2019 seperti lelucon dengan bumbu sarkasme. Awalnya sakit hati, merasa tersindir, terus menarik diri. Namun, begitulah. Terlalu kejam hingga kamu tak lagi merasa itu kejam. Sini biar ku katakan alasannya mengapa.

Karena, Sayang, kamu menjadi lebih kuat.

Aku yakin kita masih ada di sini, menunggu tahun ini menggantikan dua digit terakhirnya sambil menerka lelucon apa yang akan ia tawarkan?

Semoga, lelucon itu kali ini membuat bibirmu tersenyum. Membuat tulang pipimu terlihat karena kamu tertawa dengan kebahagiaan yang tak dibuat-buat. Karena kamu ikhlas menjalani segala prosesnya.

Oh, sebentar, ada pesan masuk. Katanya begini:

Hei, terima kasih karena sudah membaca ini.  Terima kasih karena tak pernah melewatkan satu sekon pun dari bagian hidupmu untuk bersyukur. Maafkan segala kurangnya kita di masa lalu sehingga kita layak untuk menjadi lebih kuat. Kedepannya, mari sama-sama mengusahakan diri yang terbaik. Karena, Sayang, sebelum terang, selalu ada gelap dan karena itulah bumi masih punya tujuan hidupnya; terus berotasi. Well done again, My Friend!”



Read More

Rabu, 10 Juli 2019

Dua Puluh Tiga: Kompleksitas



Sepertinya, tulisan kali ini akan menjadi projek menulis rutin setiap tahun. Sebab, tulisan ini hanya khusus menceritakan rasanya menyambut usia baru dan meninggalkan usia yang lama serta berbagai kenangannya. 

Di dua puluh satu, saya berhasil menulis surat untuk Ayah, sosok yang saya kagumi bahkan ketika ia tidak ada di sisi saat saya tumbuh. Dua puluh dua, saya menulis kenangan Memori Pengabdian, masa saya temukan orang yang lebih beragam dan mencoba sesuatu di luar kotak kehidupan saya.

Dua puluh tiga akan saya beri judul kompleksitas. 

Persis seperti apa yang diutarakan kamus, kompleksitas mengacu pada kerumitan. Apakah ini pantas disebut bagian dari Quarter Life Crisis, saya juga belum bisa memastikannya. 

Di usia ini, saya telah lulus dari perguruan tinggi. Saya menjalani hidup dengan mencari apa yang saya senangi, apa yang membuat saya nyaman, dan apa yang bisa membuat saya berkembang ke arah yang lebih baik. Namun, tidak ada hidup yang berjalan dengan mudah, kan? 

Saya ingin merasakan dunia kerja saat orangtua meminta saya melanjutkan pendidikan.  Apakah saya senang? Tidak.  Ada hari-hari yang saya habiskan dengan berpikir, apa saya sanggup menjalaninya? Sebab, saya tak ingin menjalani hidup dengan sia-sia. 

Ini perang antara trust and distrust, untuk percaya atau tidak. Kesetiaan tidak hanya berpusat pada hubungan, tetapi juga pada apa yang kamu jalani. Apakah saya punya kemampuan untuk setia pada sesuatu yang tak saya sukai? 

Bukan berarti saya tak menyukai pendidikan. Tetapi bagi saya, bertanggung jawab atas apa yang saya jalani jauh lebih penting. Belajar tak melulu soal siapa yang bergelar paling banyak dan paling tinggi. Belajar adalah proses berpikir yang seharusnya bisa kita lakukan di mana saja dan kapan saja. 

Efeknya apa? Saya cuma bisa memendam rasa iri melihat teman-teman menemukan apa yang mereka inginkan. Bekerja, menemukan orang-orang yang baru, sesekali mengeluh tentang apa yang tak mereka senangi, dan ikut pelatihan. Intinya, mereka berdiri di batu pijakan satu langkah di depan saya. 

Ingin saya katakan pada diri sendiri, “Buat apa iri, Na? Mereka ada di sana karena mereka berjuang untuk mimpi mereka. Mereka tak sepertimu, yang penakut, yang terlalu banyak berpikir, yang cuma bisa diam dan duduk sampai sesuatu berubah.” 

Tetapi kemudian, saya temukan catatan kepenulisan seorang penulis muda. Katanya begini, “Dunia tidak berputar di sekitarmu. Kamu ingin hidup sesuai passion-mu tetapi kamu lupa bahwa hidupmu sampai detik ini masih dibiayai oleh orangtuamu. Kecuali, jika kamu sudah mandiri, hiduplah sesuai apa yang kamu inginkan. Jika tidak, hiduplah seperti apa yang ditetapkan padamu.” Tulisan itu ia tunjukkan pada remaja lulusan SMA yang ingin memilih jurusan kuliah yang bertentangan dengan apa yang diinginkan orangtua. Jauh berbeda memang, saya lebih tua, sudah lulus kuliah pula, kok masih saja bermasalah dengan keinginan orangtua? Tetap saja, tulisan itu membuat saya menurunkan ego dan mulai menuruti apa kata orangtua. 

Selesai begitu saja? Tidak. Ada sisi dari nurani saya yang berkata, “Kenapa orangtua kadang bisa lebih egois? Padahal saya sudah katakan alasan mengapa saya tak ingin menuruti mereka.” 

Jawabannya saya temukan dari proses menulis itu sendiri. Saat menulis dan menyelesaikan cerita, saya temukan bahwa menulis membuat saya memahami pola pikir orang lain. Itu yang membuat saya mulai memahami keinginan orangtua. 

Ibu saya lahir sebagai anak pertama dari sebuah keluarga sederhana di Desa. Kakek seorang supir angkutan umum dan nenek tidak bekerja. Sejak SMP, ia sudah harus merantau ke kota, sendirian, demi memperoleh pendidikan yang lebih baik. Ia menghabiskan tiga tahun belajar di Pesantren di Kota Langsa. Lulus dari sana, ia melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah di Banda Aceh. Demi pendidikan, ia rela jauh dari orangtua selama enam tahun berurut-turut. Ibu menyenangi proses belajar tetapi sayang, sebagai perempuan pertama di keluarganya, ia tidak bisa melangkah lebih jauh. Ia menikah, mengurus keluarga, dan harus puas dengan label lulusan Sekolah Menengah Atas saja. 

Itu yang membuat saya akhirnya mengalah, menuruti semua keinginan orangtua. Sebab pada satu momen, setelah berbulan-bulan nego dengan keinginan untuk menunda pendidikan S2, Ibu berkata, “Kalau saja waktu bisa berputar balik, Bunda ingin melanjutkan kuliah.” Duarr, seperti tembakan peluru tepat pada hati, saya langsung berhenti bernego tentang pendidikan itu lagi.

Ada mimpi masa kecil Ibu yang kini ia wariskan pada saya. Saya sayang keluarga saya dan tidak ingin membuat Ibu kecewa. Persis seperti kutipan yang pernah saya baca, “Menerima sebuah kegagalan itu seperti sebuah grafik naik-turun. Awalnya kamu akan menolak mati-mati, hingga di satu titik, kamu mulai menerima itu jadi bagian hidupmu.” Awalnya saya menolak melanjutkan S2, tetapi di satu titik, setelah menurunkan ego dan memahami pola pikir Ibu, saya mulai menerima apa yang tak saya inginkan. 

Seiring waktu itu pula, saya belajar tentang arti kekuatan seorang perempuan. Perempuan berhak mendapat pendidikan tinggi, perempuan berhak belajar dan mengeksplor kehidupan layaknya laki-laki, dan perempuan berhak menentukan kapan ia siap menjalani hubungan yang serius. Jangan terburu, masa bahagiamu perlu waktu dan saat waktu itu tiba, yakinlah bahwa kamu sudah siap menuju bagian hidup lainnya.

Hidup adalah bagian naik dan turun. Satu masa kita akan merasa bahwa dunia diciptakan untuk kita, di masa lainnya kita akan lantang berkata bahwa dunia tak adil dan tak membuat kita bahagia. 

Saya tak tahu apakah dua puluh tiga: kompleksitas ini akan bermakna sama dengan orang lain. Siapa tahu, di luar sana, ada orang yang mengalami hidup jauh lebih rumit daripada saya. Saya cuma bisa memberi tahu satu hal:
 
Jangan menyerah dengan hidup. Ada banyak orang di luar sana yang menunggumu bahagia. Kamu berharga dan ingat, mulailah dengan menerima dan memperbaiki sesuatu yang kurang baik. 

Dan catatan khusus, untuk diri sendiri, sebelum menyambut dua puluh empat di tahun yang akan datang, “Berhentilah cemas, Na. Kamu boleh berpikir tentang sesuatu yang buruk tetapi lakukanlah karena kamu tak ingin menyesal di masa depan. Lakukanlah, karena kamu percaya, hidup berhak atas sesuatu yang bernilai positif.”



Read More

Kamis, 20 September 2018

Kita Tidak Sedang Baik-Baik Saja




        Sisi kiriku terasa lebih kosong dari sebelumnya. Rasanya tidak baik-baik saja saat melihat sesuatu yang familiar kini terasa semakin asing. 

        Jarak kita perlahan semakin menjauh. Semua obrolan kita menjadi semakin singkat, tidak padat, dan aku menganggapnya ada ketidakikhlasan dari diri kita untuk membuka diri. 

        Maafkan pemikiranku yang tak sejalan denganmu. Aku bingung harus mengatakannya bagaimana, tapi sepertinya bukan hanya kamu yang mengambil jarak itu dariku, aku pun melakukan hal yang sama. 

        Setidaknya, aku bersyukur pernah menjadi bagian dari ikatan itu. Ikatan yang sungguh manis. Sebab kita selalu menjadi rekan yang berbagi cerita suka dan duka bersama. Bersama kenangan itu, kamu sudah melihat sisi terbaik dan terburukku dan kuharap kamu tidak menghakimi masa laluku. 

        Kita pernah terluka setidaknya sekali dalam hidup. Itu sebabnya aku sulit percaya dengan orang lain. Namun denganmu, ku ceritakan segala lukaku. Segala pengorbanan yang kulakukan dan air mata yang mengalir bersama kenangan buruk itu. 

        Maaf aku terlalu angkuh untuk menyapamu lebih dulu. Maaf aku memberimu jarak saat kamu membutuhkanku. Maaf karena diriku menjadi semakin lemah dan aku membencinya. 

        Aku benci menjadi lemah. Aku benci harus mengakuinya lebih dulu. I miss you. 

        Delapan huruf itu tak pernah sembarang kuucap karena aku tak ingin orang mendengar sebuah tipuan. Meski ilusi kadang terasa lebih menenangkan hati. Tapi aku tak mengucapkannya hanya untuk membuatmu merasa di atas awan. Aku mengakui bahwa aku kalah. 

        Menakjubkan rasanya bahwa kita pernah sangat dekat. Kita pernah saling berbagi emosi.  Kita pernah berada dalam satu garis yang sama sebelum aku harus mengatakan apa saja yang kupikirkan pada hari ini. 

        Hari ini rasanya masih sama saja seperti kemarin. Ketika aku memejamkan mata yang kubayangkan adalah figurmu yang menyenangkan dan menyebalkan. Kita tidak sedang baik-baik saja dan jika kamu benar-benar menginginkan hal yang sama seperti diriku, mari berharap agar kita benar-benar bisa saling menghapus jarak ini. 

        Karena aku sudah mengatakannya delapan huruf itu lebih dulu, kuharap kamu akan melakukan hal serupa untukku. 

        If all it is eight letters, why is it so hard to say?
Read More

Minggu, 09 September 2018

Setelah Perayaannya Berakhir


        Perayaannya sudah berakhir. 

        Perjalanan empat tahun itu telah berakhir. Tugas akhirnya sudah selesai. Sekelebat senyum orang-orang serta ucapan kini hanya menjadi memori yang tertinggal di kepala. Saatnya menapaki titik hidup yang baru. 
  
        Orang-orang hidup untuk mengapai tujuan mereka masing-masing. Karier, pendidikan, atau sederhananya, mereka hanya ingin bahagia menjalani kehidupan. Yang jelas, semua tujuan hanya akan dicapai dengan mengikuti proses. 
 
        Aku telah lulus. Titel sarjana telah menempel di belakang namaku. Lantas, setelah ini apa? Apa tujuan hidupku? 

        Seandainya menjawab itu semua semudah menjawab pertanyaan orang-orang, “Apa yang akan dilakukan setelah ini, Na? Bekerja? Lanjut magister?”
 
        Aku menghela napas lelah. Terus memutar otak untuk memberikan jawaban terbaik. Berusaha mengingat semua mimpi dan tujuan hidup serupa daftar yang ingin dicapai. 

        Jika aku mampu mengurutkan dan menuliskannya di sebuah buku catatan, mungkin aku akan tertawa getir melihat mimpi-mimpiku yang ada disana.  Seperti menjadi dokter yang bekerja sukarela atau menjadi penerjemah handal yang dapat keliling dunia. Mimpi naïf seorang gadis kecil saat umurnya bahkan belum genap 12 tahun. 
  
        Mimpi lainnya menjadi masuk akal saat aku menjadi murid SMA. Aku tertarik pada dunia sains. Seperti … apa aksi yang menyebabkan suatu reaksi. Aku selalu penasaran pada hasil percobaan di laboratorium. Bagaimana hasil perkawinan antara dua tumbuhan yang berbeda? Mengapa suatu penyakit hanya dapat diturunkan pada orang tertentu? 
  
        Dunia menulis adalah jalan lainnya. Aku sangat suka membaca. Lagi-lagi aku penasaran dengan alasan orang-orang menulis. Sampai akhirnya, aku terjun pada dunia itu dan menemukan alasan mengapa aku harus menulis.  Ada imaji di otakku yang menari-nari. Ia terus mengetuk agar dapat dijadikan tulisan. Rasa lega menelusuri hati saat satu tulisan telah selesai.

        Aku menemukan obatnnya. Aku hanya perlu menulis jika aku risau pada diriku sendiri. Menulis menjadi caraku sembuh atas kepenatan hidup. 

        Tahun berjalan, umur bertambah, tetapi aku sering merasa ingin menyerah. Mimpi-mimpi yang tertulis itu menjadi tak punya makna. Aku bimbang tak tahu apa yang ingin kulakukan. Meskipun begitu, kupaksakan kakiku terus melangkah. 

        Alasannya sederhana; aku hanya ingin belajar. Tidak terbatas pada ilmu yang baru, tetapi juga belajar dari orang, tempat dan waktu  yang baru. Sebuah dunia asing yang penuh kompleksitas. 

        Empat tahun di perguruan tinggi berjalan baik-baik saja. Aku benar-benar belajar. Aku terus berusaha menyelesaikan semua kewajibanku. Mimpi-mimpi baru kini menyusul mengantri di tujuan hidupku. 

        Kupikir, semuanya semudah itu. Perayaannya berakhir dan aku kembali risau. Topi toga yang terlempar ke langit sudah kembali menyentuh tanah. Euforianya, kegembiraannya, senyuman dan jabat tangan itu semuanya berakhir. 

        Mereka menyebutnya, “inilah hidup yang sesungguhnya.” 

        Sesungguhnya makna hidup itu yang kini aku pertanyakan. Dengan mimpi-mimpi yang tertulis pada daftar itu, mana yang lebih dulu yang ingin aku capai? Bagaimana caraku mencapainya? Bila suatu hari nanti ada sesuatu yang menghalangi mimpiku, apa yang dapat kulakukan untuk mencegahnya? 
   
        Semoga, semuanya baik-baik saja. 
   
        Kutitipkan pesan untuk diriku sendiri di masa depan. Tolong, jalani pilihanmu sebaik mungkin. Jangan menyerah pada mimpi buruk yang menghantui langkah-langkah kecilmu. Semangatlah. Karena kita semua adalah pejuang atas mimpi-mimpi kita. 





Read More