“Assalamualaikum, Bu.” Begitulah
sapaan mereka sambil mengetuk pintu rumah saya tiga kali.
“Bu, kami dari Dayah *** di ***.”
Mereka mengulurkan sebuah map berwarna hijau, menunjukkan sebuah kertas
berukuran A4 bertuliskan kalimat-kalimat yang tidak saya ingat jelas. “Mohon
bantuan dana sedikit untuk anak yatim perpisahan.” Jelas mereka sesaat setelah
saya menjumpai mereka. Mereka datang berdua. Salah satunya memakai kemeja biru
muda lusuh dan kusut dipadankan dengan celana kain hitam sedikit gantung dan
peci sedangkan yang lainnya memakai koko putih yang berwarna agak kekuning-kuningan dengan membawa
sebuah tas selempang persegi hitam yang tergantung di bahunya.
Saya kembali beberapa saat setelahnya
sambil mengulurkan selembar uang pada mereka. “Makasih, Bu. Semoga rejeki Ibu
selalu bertambah.”
Begitulah fenomena peminta-minta yang
saya temukan beberapa hari belakangan. Dua anak muda berumur dua puluhan dengan
tubuh yang sehat bugar. Mereka meminta-minta dengan membawa nama dayah atau
sekolah Islam yang bahkan tidak pernah saya dengar dan tahu dimana lokasinya. Tidak
menutup kemungkinan juga jika ada pihak tidak bertanggung-jawab yang
memanipulasi surat tersebut dan menarik iba masyarakat dengan membawa nama
sekolah yang membutuhkan bantuan dana.
Fakta ini cukup membingungkan menurut
saya. Mereka adalah orang berpendidikan dan beragama. Sudah seharusnya memahami
bahwa meminta-minta adalah hal yang sangat tidak dianjurkan dalam agama. Bahkan
Islam sudah menjelaskan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di
bawah. Selain itu, karena mereka masih muda dan sehat, daripada mereka meminta-minta, lebih baik mereka mengadakan kegiatan bazaar. Disana mereka dapat menjual barang atau jasa dengan harga lebih tinggi namun dengan tetap menjelaskan kepada pembeli bahwa laba yang didapatkan akan digunakan untuk kegiatan amal.
Di lain kesempatan, saya pernah
menemukan mereka melakukan hal yang sama di perempatan Lampriet. Kali ini
mereka kembali membawa nama sebuah sekolah Islam dari daerah Lhokseumawe.
Saya berpikir apa yang menyebabkan
mereka melakukan hal yang sama. Bukankah harusnya sudah ada dana alokasi sosial
dari Pemerintah yang sampai kepada mereka? Bukankah ada dana zakat yang
harusnya sampai kepada mereka?
Menurut saya, ada beberapa alasan
mereka meminta-minta seperti ini. Dana yang tidak sampai kepada mereka atau
dana tersebut tidak cukup sehingga membuat mereka harus turun ke jalanan dan
rumah-rumah masyarakat.
Sudah seharusnya pihak yang
bertanggung jawab turun tangan terhadap masalah ini. Bukankah pemerintah bertanggung
jawab terhadap anak yatim dan fakir miskin dipelihara oleh negara? Hal ini
justru berbanding terbalik dengan fakta yang kita jumpai di tengah masyarakat.
Hampir di setiap keramaian, kita dapat menemukan peminta-minta.
Jika kita memandang dari segi pemberi,
alangkah baiknya memberi uang kita kepada orang di sekitar kita yang
kehidupannya lebih kurang daripada kita tetapi mereka mau berusaha. Berikan
sesuatu yang produktif agar mereka dapat menghasilkan uang dan hidup mandiri
atau kita dapat menyedekahkan uang kita langsung pada badan atau lembaga amil,
zakat, infaq dan sadaqah. Hal ini justru lebih meyakinkan karena pihak-pihak
pada lembaga tersebut lebih mampu menyentuh pihak-pihak yang membutuhkan. Hal
seperti inilah yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad.
Memang benar, menolong orang lain
adalah suatu perbuatan terpuji tetapi hal ini justru tidak berkorelasi dengan
fenomena peminta-minta yang kita temukan. Dengan dalih beramal, mereka meminta-minta
dari satu orang ke orang lain. Inilah yang merusak mental mereka. Peminta-minta
akan menjadi orang yang malas dan tidak memiliki etos kerja. Pada akhirnya,
meminta-minta akan menjadi suatu profesi baru bagi mereka. Tidak melelahkan dan
menghasilkan banyak uang secara instan. Dalam jangka panjang, hal ini akan
membuat generasi penerus bangsa ini tidak berpikir untuk maju lagi.
0 komentar:
Posting Komentar