Rabu, 27 April 2016

Fenomena Peminta-minta di Aceh



       “Assalamualaikum, Bu.” Begitulah sapaan mereka sambil mengetuk pintu rumah saya tiga kali. 
 
     “Bu, kami dari Dayah *** di ***.” Mereka mengulurkan sebuah map berwarna hijau, menunjukkan sebuah kertas berukuran A4 bertuliskan kalimat-kalimat yang tidak saya ingat jelas. “Mohon bantuan dana sedikit untuk anak yatim perpisahan.” Jelas mereka sesaat setelah saya menjumpai mereka. Mereka datang berdua. Salah satunya memakai kemeja biru muda lusuh dan kusut dipadankan dengan celana kain hitam sedikit gantung dan peci sedangkan yang lainnya memakai koko putih yang  berwarna agak kekuning-kuningan dengan membawa sebuah tas selempang persegi hitam yang tergantung di bahunya. 

      Saya kembali beberapa saat setelahnya sambil mengulurkan selembar uang pada mereka. “Makasih, Bu. Semoga rejeki Ibu selalu bertambah.” 

      Begitulah fenomena peminta-minta yang saya temukan beberapa hari belakangan. Dua anak muda berumur dua puluhan dengan tubuh yang sehat bugar. Mereka meminta-minta dengan membawa nama dayah atau sekolah Islam yang bahkan tidak pernah saya dengar dan tahu dimana lokasinya. Tidak menutup kemungkinan juga jika ada pihak tidak bertanggung-jawab yang memanipulasi surat tersebut dan menarik iba masyarakat dengan membawa nama sekolah yang membutuhkan bantuan dana. 

       Fakta ini cukup membingungkan menurut saya. Mereka adalah orang berpendidikan dan beragama. Sudah seharusnya memahami bahwa meminta-minta adalah hal yang sangat tidak dianjurkan dalam agama. Bahkan Islam sudah menjelaskan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Selain itu, karena mereka masih muda dan sehat, daripada mereka meminta-minta, lebih baik mereka mengadakan kegiatan bazaar. Disana mereka dapat menjual barang atau jasa dengan harga lebih tinggi namun dengan tetap menjelaskan kepada pembeli bahwa laba yang didapatkan akan digunakan untuk kegiatan amal.

       Di lain kesempatan, saya pernah menemukan mereka melakukan hal yang sama di perempatan Lampriet. Kali ini mereka kembali membawa nama sebuah sekolah Islam dari daerah Lhokseumawe. 

         Saya berpikir apa yang menyebabkan mereka melakukan hal yang sama. Bukankah harusnya sudah ada dana alokasi sosial dari Pemerintah yang sampai kepada mereka? Bukankah ada dana zakat yang harusnya sampai kepada mereka?

         Menurut saya, ada beberapa alasan mereka meminta-minta seperti ini. Dana yang tidak sampai kepada mereka atau dana tersebut tidak cukup sehingga membuat mereka harus turun ke jalanan dan rumah-rumah masyarakat. 

       Sudah seharusnya pihak yang bertanggung jawab turun tangan terhadap masalah ini. Bukankah pemerintah bertanggung jawab terhadap anak yatim dan fakir miskin dipelihara oleh negara? Hal ini justru berbanding terbalik dengan fakta yang kita jumpai di tengah masyarakat. Hampir di setiap keramaian, kita dapat menemukan peminta-minta. 

          Jika kita memandang dari segi pemberi, alangkah baiknya memberi uang kita kepada orang di sekitar kita yang kehidupannya lebih kurang daripada kita tetapi mereka mau berusaha. Berikan sesuatu yang produktif agar mereka dapat menghasilkan uang dan hidup mandiri atau kita dapat menyedekahkan uang kita langsung pada badan atau lembaga amil, zakat, infaq dan sadaqah. Hal ini justru lebih meyakinkan karena pihak-pihak pada lembaga tersebut lebih mampu menyentuh pihak-pihak yang membutuhkan. Hal seperti inilah yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad. 
 
        Memang benar, menolong orang lain adalah suatu perbuatan terpuji tetapi hal ini justru tidak berkorelasi dengan fenomena peminta-minta yang kita temukan. Dengan dalih beramal, mereka meminta-minta dari satu orang ke orang lain. Inilah yang merusak mental mereka. Peminta-minta akan menjadi orang yang malas dan tidak memiliki etos kerja. Pada akhirnya, meminta-minta akan menjadi suatu profesi baru bagi mereka. Tidak melelahkan dan menghasilkan banyak uang secara instan. Dalam jangka panjang, hal ini akan membuat generasi penerus bangsa ini tidak berpikir untuk maju lagi.

0 komentar:

Posting Komentar