Tulisan ini bermula ketika saya membaca sebuah blog yang
bercerita tentang perjalanan seorang mahasiwa Indonesia yang melanjutkan
pendidikan magisternya ke UK dan ketika saya menonton salah satu acara di televisi,
The Colour of Indonesia. Keduanya
menggambarkan satu hal yang sama : Indahnya Tanah Air Indonesia.
Hal ini membuat saya bertanya-tanya, “Sehebat apa sih tanah air yang saya tinggali sejak kecil ini?” dan “Mengapa mereka yang sudah merasakan hidup
di negara maju pada akhirnya memilih untuk kembali pulang ke tanah air?”
Satu kenyataan yang saya temukan. Indonesia ini sangat
indah. Amat sangat indah bahkan sampai saya sendiri tidak membayangkannya.
Inilah Indonesia. Negara dengan budaya dan bahasa terbanyak
di dunia. Negara pemilik 17.504 pulau dengan penduduk terbanyak di dunia. Penghasil
kopi-kopi lezat di dunia. Pemilik hutan tropis dan biodiversity dunia.
Hal ini justru sangat miris ketika kita melihat berita yang
muncul. Korupsi, pembakaran lahan di Riau dan Kalimantan, karya hebat anak
bangsa yang tidak digubris oleh Pemerintah kita, bahasa Indonesia dan bahasa
daerah yang terancam punah, negara agraris yang harus mengimpor beras untuk
rakyat mereka sendiri dan hal-hal lainnya yang kini terancam hilang dari Indonesia.
Sebenarnya, apa yang salah dengan negara kita?
Kita bisa saja bersikap apatis pada negeri ini namun saya
memilih tidak. Bagaimana kalau kita membalikkan sudut pandang? Kita lihat semua
kekurangan negeri kita ini dengan sejuta kelebihan lainnya. Sebenarnya kita
punya potensi tetapi kita tidak maju karena kita memilih diam dan apatis.
Sebagai seorang mahasiswi, mungkin saya belum bisa berbuat
banyak untuk membuat negara ini menjadi lebih baik. Namun saya berani bermimpi,
jika bukan saya dan teman-teman, siapa lagi yang mampu mengubah tanah air ini? Hanya
kitalah yang mampu memimpin negeri ini.
Apa yang membuat saya lebih sering melihat keburukan
Indonesia padahal Indonesia memiliki segudang kelebihan lainnya? Padahal air
dan tanah yang saya gunakan adalah milik Indonesia. Makanan yang saya konsumsi
adalah milik Indonesia. Pakaian yang saya kenakan adalah milik Indonesia.
Teringat dengan kasus batik, tempe, reog ponorogo dan
Ambalat? Mereka dicuri negara tetangga saat kita terlalu sibuk sama diri kita
sendiri. Kita terlalu sering mengagung-agungkan negara orang sampai hal hebat
milik kita dicuri orang lain. Saya tidak sanggup membayangkan ada hal unik lain
milik kita punah dan diambil oleh negara lain.
Jangan sampai ada batik, tempe, reog ponorogo, pulau Ambalat lain yang dicuri lagi.
Sekarang, semuanya
kembali pada kita sendiri. Saya masih ingin tinggal di negeri ini. Saya masih
ingin melihat negeri ini menjadi lebih baik. Saya masih ingin tersenyum senang
saat mendengar orang lain memuji negeri ini.
Saya masih ingin berdecak kagum saat melihat anak bangsa mengangkat
piala kejuaraan dan menyanyikan Indonesia Raya dengan suara lantang dihadapan
negara-negara lain.
Indonesia memang negara sederhana. Masih jauh dari kata sempurna. Namun ketidaksempurnaan dan kesederhanaan inilah yang membuat saya takkan pernah bisa berpaling dari negeri ini.
Penggalan lagu Indonesia Pusaka terngiang-giang di telinga
saya sekarang.
Indonesia tanah air
beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu
kala
Tetap di
puja-puja bangsa
Disana tempat lahir
beta
Dibuai dibesarkan
bunda
Tempat berlindung di
hari tua
Sampai akhir menutup
mata

0 komentar:
Posting Komentar