Rabu, 13 April 2016

Tanah Airku, Indonesia


      Tulisan ini bermula ketika saya membaca sebuah blog yang bercerita tentang perjalanan seorang mahasiwa Indonesia yang melanjutkan pendidikan magisternya ke UK dan ketika saya menonton salah satu acara di televisi, The Colour of Indonesia. Keduanya menggambarkan satu hal yang sama : Indahnya Tanah Air Indonesia.

        Hal ini membuat saya bertanya-tanya, “Sehebat apa sih tanah air yang saya tinggali sejak kecil ini?” dan “Mengapa mereka yang sudah merasakan hidup di negara maju pada akhirnya memilih untuk kembali pulang ke tanah air?”

     Satu kenyataan yang saya temukan. Indonesia ini sangat indah. Amat sangat indah bahkan sampai saya sendiri tidak membayangkannya.

       Inilah Indonesia. Negara dengan budaya dan bahasa terbanyak di dunia. Negara pemilik 17.504 pulau dengan penduduk terbanyak di dunia. Penghasil kopi-kopi lezat di dunia. Pemilik hutan tropis dan biodiversity dunia. 

       Hal ini justru sangat miris ketika kita melihat berita yang muncul. Korupsi, pembakaran lahan di Riau dan Kalimantan, karya hebat anak bangsa yang tidak digubris oleh Pemerintah kita, bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang terancam punah, negara agraris yang harus mengimpor beras untuk rakyat mereka sendiri dan hal-hal lainnya yang kini terancam hilang dari Indonesia. Sebenarnya, apa yang salah dengan negara kita?

       Kita bisa saja bersikap apatis pada negeri ini namun saya memilih tidak. Bagaimana kalau kita membalikkan sudut pandang? Kita lihat semua kekurangan negeri kita ini dengan sejuta kelebihan lainnya. Sebenarnya kita punya potensi tetapi kita tidak maju karena kita memilih diam dan apatis.  

       Sebagai seorang mahasiswi, mungkin saya belum bisa berbuat banyak untuk membuat negara ini menjadi lebih baik. Namun saya berani bermimpi, jika bukan saya dan teman-teman, siapa lagi yang mampu mengubah tanah air ini? Hanya kitalah yang mampu memimpin negeri ini. 

      Apa yang membuat saya lebih sering melihat keburukan Indonesia padahal Indonesia memiliki segudang kelebihan lainnya? Padahal air dan tanah yang saya gunakan adalah milik Indonesia. Makanan yang saya konsumsi adalah milik Indonesia. Pakaian yang saya kenakan adalah milik Indonesia. 

      Teringat dengan kasus batik, tempe, reog ponorogo dan Ambalat? Mereka dicuri negara tetangga saat kita terlalu sibuk sama diri kita sendiri. Kita terlalu sering mengagung-agungkan negara orang sampai hal hebat milik kita dicuri orang lain. Saya tidak sanggup membayangkan ada hal unik lain milik kita punah dan diambil oleh negara lain. 


Jangan sampai ada batik, tempe, reog ponorogo, pulau Ambalat lain  yang dicuri lagi.

        Sekarang, semuanya kembali pada kita sendiri. Saya masih ingin tinggal di negeri ini. Saya masih ingin melihat negeri ini menjadi lebih baik. Saya masih ingin tersenyum senang saat mendengar orang lain memuji negeri ini.  Saya masih ingin berdecak kagum saat melihat anak bangsa mengangkat piala kejuaraan dan menyanyikan Indonesia Raya dengan suara lantang dihadapan negara-negara lain.





Indonesia memang negara sederhana. Masih jauh dari kata sempurna. Namun ketidaksempurnaan  dan kesederhanaan inilah yang membuat saya takkan pernah bisa berpaling dari negeri ini.
 

        Penggalan lagu Indonesia Pusaka terngiang-giang di telinga saya sekarang.

Indonesia tanah air beta

Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Tetap di puja-puja  bangsa



Disana tempat lahir beta

Dibuai dibesarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua

Sampai akhir menutup mata




  

 

0 komentar:

Posting Komentar