Kamis, 28 Juni 2018

Memori Pengabdian


A journey tells you everything. 

A journey teaches you everything. 

A journey helps you to find out who you really are. 



        26 Maret 2018, saat pertama kalinya aku meninggalkan rumah selama 44 hari. Rasanya sudah begitu lama tapi memori tentangnya masih tersimpan dalam benak. 

        Ada kenangan tentang bagaimana kami duduk bertukar pikiran. Ada canda yang terlontar dan perdebatan yang menyesakkan jiwa. 44 hari itu mengajarkanku banyak hal. 

        Aku melihat sisi lain dunia yang lebih luas. Sebuah daerah kecil di dekat pantai. Setiap subuh menjelang mampir, ada suara deburan ombak dan angin yang menyapa tubuh. Tapak-tapak kaki berjejak membawa cerita pada perjalanan gelap gulita. Hanya dibantu penerangan gawai. Selebihnya berharap pada kuasa Ilahi. 

        Karakter-karakter yang bertolak belakang. Setiap orang setidaknya punya dua sisi yang berhasil ditunjukkannya. Seseorang mungkin membuatmu sebal setengah mati tetapi dia juga lah yang menyokongmu. Seseorang yang tidak kau senangi bisa jadi seseorang yang pernah membuatmu tersenyum. 

        We have to deal with it. Kita hidup dalam lingkungan saat kita hanya berusaha menjadi kita yang seutuhnya. Kita yang terbaik. 

        Senyum-senyum yang bermekaran karena canda yang terlontar. Pikiran yang tertahan untuk diungkapkan karena kekhawatiran akan meredupkan cahaya. Kemudian, ada bibir yang tersenyum simpul dengan rasa sayang yang ditunjukkan.  

        Kasih sayang divisualisasikan dalam bermacam bentuk. Orang tua pada anak, kakak pada adiknya, pada sesama teman pengabdian dan sesama warga sosial. Mulanya kita tidak saling kenal tapi waktu yang berjalan pada tempat yang sama menceritakan padaku bahwa sesungguhnya hidup tidak sesederhana yang aku bayangkan. 

        Life is not simple. Life shows me how love works in a beautiful way. Life is a part of journey. 

        Dari pengabdian aku belajar untuk lebih peduli. Untuk menekan rasa ego sebab ada banyak kepentingan bersama yang harus dijalankan. Aku mencoba lebih peduli pada orang yang benar-benar asing. Aku mencoba untuk menjadi orang lain saat basa-basi sama sekali bukan gayaku. 

        Perjalanan ini membuatku belajar banyak makna tentang rindu. Aku rindu rumah. Aku rindu keluarga. Aku rindu makanannya. Aku rindu canda-tawa yang menyertainya. Aku rindu teman-temanku. My home has never felt this far. Aku berusaha tak mempedulikannya. 

        Namun, semua itu tak berarti, saat dering panggilan menggetarkan gawai. Ada nama yang tercatat di layar. Sebuah senyum langsung terkembang lebar saat berbicara dengannya. Bertanya kabar dan bertukar cerita adalah bentuk lain dari rasa peduli. 
  
        Atau saat sebuah pesan singkat masuk, “Hari ini ngapain aja?”
   
        Menit yang singkat atau panjang dan kalimat yang menyertainya tak menjadi masalah asal rindu itu tuntas di sana.
 
        This journey worked so well. Aku jadi punya wajah untuk bercerita. Aku punya telinga untuk mendengarkan cerita. Perasaanku ikut sensitif saat terhanyut dalam cerita pada rupa sedih yang terpasang di wajah. 

        Melalui pengabdian, aku belajar bahwa aku bisa seperti orang lain. Aku bisa menunjukkan hasil pikiranku. Aku akhirnya mampu berbicara di hadapan anak-anak dan orang dewasa. Aku merasa lebih baik saat aku berhasil melakukan sesuatu yang mungkin adalah hal yang remeh bagi orang lain. 

        This journey helps me to explore another side of the world. 

        Kupikir, 21 tahun aku bernapas, aku belum pernah melihat hal-hal sederhana dalam bentuk yang lebih indah. Bagaimana pulau lain tampak sangat indah di mata. Suara debur ombak sangat menenangkan jiwa. Rasa pasir laut yang mengelikkan di kaki. Rasa angin yang menyapa kulitku. 


        Aku jatuh hati pada segalanya. Pada cerita yang tertulis, pada orang-orangnya, pada ikatan yang berjalan bersamanya. Bahkan bintang malam yang berjajar terlihat indah saat kau duduk menatapnya dari mobil bak terbuka yang berjalan pulang. 

        Semuanya terasa begitu sederhana. Sangat biasa. Namun, istimewa. 

        Hidup tak semenarik seperti yang terlihat. Ada satu waktu saat aku menangis karena lelah dengan semuanya. Saat aku tak bisa menjadi seperti orang lain. Saat aku benci dengan senyum senang di wajah orang lain ketika aku tersiksa seorang diri. Saat aku menahan rindu yang terasa begitu berat.  Semuanya sungguh membuatku gila. 
 
        Take me back to the basic and simple life. Semua hal menjadi lebih rumit. Semua hal memberi rasa takut pada diriku. Ku sugestikan pikiranku bahwa aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja saat aku masih bernapas. 

        Meski demikian, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menemukan sisi terbaik dari diriku. 

        Sekarang waktunya untuk benar-benar beranjak dari memori pengabdian ini. Hidup masih panjang. Masalah mungkin akan semakin rumit. Aku ingin mengubur memori ini dalam tong pikiranku. Namun sebelumnya, aku ingin berterima kasih pada orang-orang, waktu dan tempatnya. Suatu hari, memori pengabdian ini akan ku bongkar kembali. Saat itu tiba, entah aku akan menyesal atau aku akan malu setengah mati. 
  
        Terima kasih. Sungguh. Aku akan merindukannya walaupun aku ragu akan bersedia mengulanginya lagi kecuali bersama kalian. 
 
Read More

Rabu, 27 Juni 2018

Sebuah Surat Tak Terbaca


Finally, setelah sekian tahun tidak terhitung, aku bisa menulis surat ini. 



 
      Hai, Yah! 

         Waktu aku menulis ini, 18 juni baru saja lewat dan aku baru berjumpa dengan angka 22. Aku baik-baik saja, meski segala kerumitan pertemanan, keluarga, dan pendidikan menyapaku terlalu rutin. 

         Tidak ada yang berubah. Aku masih anak perempuanmu yang terus bertumbuh dewasa tanpa ingin menghilangkan kenangan masa kecil kita. Banyak cerita yang masih membekas di benakku. Tentang bagaimana rasa tenang dari senyumanmu, bagaimana rasa kehangatan ketika dipeluk dirimu, dan bagaimana rasa takut saat Ayah akan mencabut gigiku. 

        Those memories means everything for me!

        Mungkin, di perjalanan ke-22 tahun ini, aku akan menamatkan pendidikanku. Sedikit dari pencapaian yang aku persembahkan untuk Ayah dan Bunda. Semoga kalian bangga dengan usaha kecilku ini. 

        21 yang telah lalu mengajarkanku bahwa menjadi orang dewasa itu sangat sulit, Yah. Dunia orang dewasa terlalu rumit bagi aku yang ingin selamanya menjadi putri kecilmu. Otakku terlalu penuh karena terus berpikir aku akan menjadi apa di hadapan orang lain dan di masa depan. Hatiku merasa berat untuk menerima segala opini orang lain. I am not ready for growing old

         Aku pernah punya harapan untuk tumbuh dewasa dengan bimbingamu. But Allah loves you more. Detik ini, aku masih berusaha untuk rela akan kepergianmu kemudian tumbuh dewasa dengan keluarga kita. 

         Aku masih merindukanmu dan selamanya akan begitu. 

        Yah, Bunda bilang bahwa kelahiranku adalah hadiah atas ulang tahunmu. Sebab kita berdua lahir pada 18 Juni, tahun yang berbeda. Si kembar berbeda fisik dan jiwa. Tidak, Ayah adalah hadiah sesungguhnya untukku. Kehadiranmu adalah penuntunku, cahayaku, dan pelindungku. 

        Nothing is forever, people said. Aku tak setuju, Yah. Kehidupan kita memang tak akan selamanya, tapi memori itu akan selalu jadi sesuatu yang selamanya. 

        Yah, if you could see me now, aku ingin menunjukkan padamu pencapaian kecilku. Aku penasaran, apa Ayah akan bangga atau justru mengkritikku yang sering menyerah. Meski demikian, aku hanya ingin percaya bahwa di atas sana, Ayah melihatku dan berkata, “That’s my kid.”

        Surat ini tak akan pernah dibaca olehmu. Surat ini hanya ungkapan rasa rinduku padamu. Kuharap, tulisan ini bisa menjadi rumah bagi rasa sakitku. 18 Juni telah lewat beberapa hari yang lalu dan rasanya masih sama saja. 

        Ayah, aku masih rindu dan selamanya akan begitu.
Read More