A journey tells you everything.
A journey teaches you everything.
A journey helps you to find out who you
really are.
26 Maret 2018, saat pertama
kalinya aku meninggalkan rumah selama 44 hari. Rasanya sudah begitu lama tapi
memori tentangnya masih tersimpan dalam benak.
Ada kenangan tentang bagaimana
kami duduk bertukar pikiran. Ada canda yang terlontar dan perdebatan yang
menyesakkan jiwa. 44 hari itu mengajarkanku banyak hal.
Aku melihat sisi lain dunia yang
lebih luas. Sebuah daerah kecil di dekat pantai. Setiap subuh menjelang mampir,
ada suara deburan ombak dan angin yang menyapa tubuh. Tapak-tapak kaki berjejak
membawa cerita pada perjalanan gelap gulita. Hanya dibantu penerangan gawai.
Selebihnya berharap pada kuasa Ilahi.
Karakter-karakter yang bertolak
belakang. Setiap orang setidaknya punya dua sisi yang berhasil ditunjukkannya. Seseorang
mungkin membuatmu sebal setengah mati tetapi dia juga lah yang menyokongmu.
Seseorang yang tidak kau senangi bisa jadi seseorang yang pernah membuatmu
tersenyum.
We have to deal with it. Kita hidup dalam lingkungan saat kita hanya
berusaha menjadi kita yang seutuhnya. Kita yang terbaik.
Senyum-senyum yang bermekaran
karena canda yang terlontar. Pikiran yang tertahan untuk diungkapkan karena
kekhawatiran akan meredupkan cahaya. Kemudian, ada bibir yang tersenyum simpul
dengan rasa sayang yang ditunjukkan.
Kasih sayang divisualisasikan
dalam bermacam bentuk. Orang tua pada anak, kakak pada adiknya, pada sesama
teman pengabdian dan sesama warga sosial. Mulanya kita tidak saling kenal tapi waktu
yang berjalan pada tempat yang sama menceritakan padaku bahwa sesungguhnya
hidup tidak sesederhana yang aku bayangkan.
Life is not simple. Life shows me how love
works in a beautiful way. Life is a part of journey.
Dari pengabdian aku belajar untuk
lebih peduli. Untuk menekan rasa ego sebab ada banyak kepentingan bersama yang
harus dijalankan. Aku mencoba lebih peduli pada orang yang benar-benar asing.
Aku mencoba untuk menjadi orang lain saat basa-basi sama sekali bukan gayaku.
Perjalanan ini membuatku belajar
banyak makna tentang rindu. Aku rindu rumah. Aku rindu keluarga. Aku rindu
makanannya. Aku rindu canda-tawa yang menyertainya. Aku rindu teman-temanku. My home has never felt this far. Aku
berusaha tak mempedulikannya.
Namun, semua itu tak berarti,
saat dering panggilan menggetarkan gawai. Ada nama yang tercatat di layar.
Sebuah senyum langsung terkembang lebar saat berbicara dengannya. Bertanya
kabar dan bertukar cerita adalah bentuk lain dari rasa peduli.
Atau saat sebuah pesan singkat
masuk, “Hari ini ngapain aja?”
Menit yang singkat atau panjang
dan kalimat yang menyertainya tak menjadi masalah asal rindu itu tuntas di
sana.
This journey worked so well. Aku jadi punya wajah untuk bercerita. Aku
punya telinga untuk mendengarkan cerita. Perasaanku ikut sensitif saat
terhanyut dalam cerita pada rupa sedih yang terpasang di wajah.
Melalui pengabdian, aku belajar
bahwa aku bisa seperti orang lain. Aku bisa menunjukkan hasil pikiranku. Aku
akhirnya mampu berbicara di hadapan anak-anak dan orang dewasa. Aku merasa
lebih baik saat aku berhasil melakukan sesuatu yang mungkin adalah hal yang
remeh bagi orang lain.
This journey helps me to explore another side
of the world.
Kupikir, 21 tahun aku bernapas,
aku belum pernah melihat hal-hal sederhana dalam bentuk yang lebih indah.
Bagaimana pulau lain tampak sangat indah di mata. Suara debur ombak sangat
menenangkan jiwa. Rasa pasir laut yang mengelikkan di kaki. Rasa angin yang
menyapa kulitku.
Aku jatuh hati pada segalanya.
Pada cerita yang tertulis, pada orang-orangnya, pada ikatan yang berjalan
bersamanya. Bahkan bintang malam yang berjajar terlihat indah saat kau duduk
menatapnya dari mobil bak terbuka yang berjalan pulang.
Semuanya terasa begitu sederhana.
Sangat biasa. Namun, istimewa.
Take me back to the basic and simple life. Semua hal menjadi lebih rumit. Semua hal memberi
rasa takut pada diriku. Ku sugestikan pikiranku bahwa aku baik-baik saja. Aku
baik-baik saja saat aku masih bernapas.
Meski demikian, aku ingin
membuktikan bahwa aku bisa menemukan sisi terbaik dari diriku.
Sekarang waktunya untuk
benar-benar beranjak dari memori pengabdian ini. Hidup masih panjang. Masalah
mungkin akan semakin rumit. Aku ingin mengubur memori ini dalam tong pikiranku.
Namun sebelumnya, aku ingin berterima kasih pada orang-orang, waktu dan
tempatnya. Suatu hari, memori pengabdian ini akan ku bongkar kembali. Saat itu
tiba, entah aku akan menyesal atau aku akan malu setengah mati.
Terima kasih. Sungguh. Aku akan
merindukannya walaupun aku ragu akan bersedia mengulanginya lagi kecuali
bersama kalian.


0 komentar:
Posting Komentar