Finally,
setelah sekian tahun tidak terhitung, aku bisa menulis surat ini.
Hai, Yah!
Waktu aku menulis ini, 18 juni
baru saja lewat dan aku baru berjumpa dengan angka 22. Aku baik-baik saja,
meski segala kerumitan pertemanan, keluarga, dan pendidikan menyapaku terlalu
rutin.
Tidak ada yang berubah. Aku masih
anak perempuanmu yang terus bertumbuh dewasa tanpa ingin menghilangkan kenangan
masa kecil kita. Banyak cerita yang masih membekas di benakku. Tentang
bagaimana rasa tenang dari senyumanmu, bagaimana rasa kehangatan ketika dipeluk
dirimu, dan bagaimana rasa takut saat Ayah akan mencabut gigiku.
Those memories means everything for me!
Mungkin, di perjalanan ke-22
tahun ini, aku akan menamatkan pendidikanku. Sedikit dari pencapaian yang aku
persembahkan untuk Ayah dan Bunda. Semoga kalian bangga dengan usaha kecilku
ini.
21 yang telah lalu mengajarkanku
bahwa menjadi orang dewasa itu sangat sulit, Yah. Dunia orang dewasa terlalu
rumit bagi aku yang ingin selamanya menjadi putri kecilmu. Otakku terlalu penuh
karena terus berpikir aku akan menjadi apa di hadapan orang lain dan di masa
depan. Hatiku merasa berat untuk menerima segala opini orang lain. I am not ready for growing old.
Aku pernah punya harapan untuk
tumbuh dewasa dengan bimbingamu. But
Allah loves you more. Detik ini, aku masih berusaha untuk rela akan
kepergianmu kemudian tumbuh dewasa dengan keluarga kita.
Aku masih merindukanmu dan selamanya akan
begitu.
Yah, Bunda bilang bahwa
kelahiranku adalah hadiah atas ulang tahunmu. Sebab kita berdua lahir pada 18
Juni, tahun yang berbeda. Si kembar berbeda fisik dan jiwa. Tidak, Ayah adalah
hadiah sesungguhnya untukku. Kehadiranmu adalah penuntunku, cahayaku, dan
pelindungku.
Nothing is forever, people said. Aku tak setuju, Yah. Kehidupan kita memang
tak akan selamanya, tapi memori itu akan selalu jadi sesuatu yang selamanya.
Yah, if you could see me now, aku ingin menunjukkan padamu pencapaian
kecilku. Aku penasaran, apa Ayah akan bangga atau justru mengkritikku yang
sering menyerah. Meski demikian, aku hanya ingin percaya bahwa di atas sana,
Ayah melihatku dan berkata, “That’s my
kid.”
Surat ini tak akan pernah dibaca
olehmu. Surat ini hanya ungkapan rasa rinduku padamu. Kuharap, tulisan ini bisa
menjadi rumah bagi rasa sakitku. 18 Juni telah lewat beberapa hari yang lalu
dan rasanya masih sama saja.
Ayah, aku masih rindu dan
selamanya akan begitu.

0 komentar:
Posting Komentar