Rabu, 27 Juni 2018

Sebuah Surat Tak Terbaca


Finally, setelah sekian tahun tidak terhitung, aku bisa menulis surat ini. 



 
      Hai, Yah! 

         Waktu aku menulis ini, 18 juni baru saja lewat dan aku baru berjumpa dengan angka 22. Aku baik-baik saja, meski segala kerumitan pertemanan, keluarga, dan pendidikan menyapaku terlalu rutin. 

         Tidak ada yang berubah. Aku masih anak perempuanmu yang terus bertumbuh dewasa tanpa ingin menghilangkan kenangan masa kecil kita. Banyak cerita yang masih membekas di benakku. Tentang bagaimana rasa tenang dari senyumanmu, bagaimana rasa kehangatan ketika dipeluk dirimu, dan bagaimana rasa takut saat Ayah akan mencabut gigiku. 

        Those memories means everything for me!

        Mungkin, di perjalanan ke-22 tahun ini, aku akan menamatkan pendidikanku. Sedikit dari pencapaian yang aku persembahkan untuk Ayah dan Bunda. Semoga kalian bangga dengan usaha kecilku ini. 

        21 yang telah lalu mengajarkanku bahwa menjadi orang dewasa itu sangat sulit, Yah. Dunia orang dewasa terlalu rumit bagi aku yang ingin selamanya menjadi putri kecilmu. Otakku terlalu penuh karena terus berpikir aku akan menjadi apa di hadapan orang lain dan di masa depan. Hatiku merasa berat untuk menerima segala opini orang lain. I am not ready for growing old

         Aku pernah punya harapan untuk tumbuh dewasa dengan bimbingamu. But Allah loves you more. Detik ini, aku masih berusaha untuk rela akan kepergianmu kemudian tumbuh dewasa dengan keluarga kita. 

         Aku masih merindukanmu dan selamanya akan begitu. 

        Yah, Bunda bilang bahwa kelahiranku adalah hadiah atas ulang tahunmu. Sebab kita berdua lahir pada 18 Juni, tahun yang berbeda. Si kembar berbeda fisik dan jiwa. Tidak, Ayah adalah hadiah sesungguhnya untukku. Kehadiranmu adalah penuntunku, cahayaku, dan pelindungku. 

        Nothing is forever, people said. Aku tak setuju, Yah. Kehidupan kita memang tak akan selamanya, tapi memori itu akan selalu jadi sesuatu yang selamanya. 

        Yah, if you could see me now, aku ingin menunjukkan padamu pencapaian kecilku. Aku penasaran, apa Ayah akan bangga atau justru mengkritikku yang sering menyerah. Meski demikian, aku hanya ingin percaya bahwa di atas sana, Ayah melihatku dan berkata, “That’s my kid.”

        Surat ini tak akan pernah dibaca olehmu. Surat ini hanya ungkapan rasa rinduku padamu. Kuharap, tulisan ini bisa menjadi rumah bagi rasa sakitku. 18 Juni telah lewat beberapa hari yang lalu dan rasanya masih sama saja. 

        Ayah, aku masih rindu dan selamanya akan begitu.

0 komentar:

Posting Komentar